2018-2020, Ekonomi RI Rata-rata Tumbuh 5,3%

LAPORAN KUARTALAN BANK DUNIA

2018-2020, Ekonomi RI Rata-rata Tumbuh 5,3%
Oleh Arnoldus Kristianus dan Abdul Muslim | Rabu, 28 Maret 2018 | 16:45

Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo Chaves. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

JAKARTA – Bank Dunia dalam laporan kuartalan terbaru menyatakan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode 2018-2020 diproyeksikan mencapai 5,3%, lebih tinggi dari pencapaian 2017 sebesar 5,1%. Pertumbuhan ini masih berpeluang meningkat dengan sejumlah perbaikan, karena pertumbuhan ekonomi potensial Indonesia mencapai 5,6%.

Pertumbuhan ekonomi 2018 antara lain akan didukung berlanjutnya rally harga-harga komoditas, seperti terlihat pada Januari-Februari yang didorong kenaikan harga energi, logam, mineral, dan logam mulia.

Rodrigo A Chaves, Country Director Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste di Jakarta, Selasa (27/3), menyatakan, PDB Indonesia tahun 2017 tumbuh 5,1%, dipicu oleh investasi dan ekspor neto yang lebih kuat, berkat perdagangan global yang lebih baik dan berlanjutnya pemulihan harga komoditas. Investasi publik juga mendukung pertumbuhan, dengan total belanja pemerintah tumbuh paling cepat dalam tiga tahun terakhir.

“Kebijakan ekonomi makro yang baik telah berkontribusi pada pertumbuhan investasi yang mencapai tingkat tertinggi dalam lima tahun terakhir,” kata Chaves.

Tahun ini, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan PDB riil Indonesia mencapai 5,3%. Namun, potensi itu dibayangi perdagangan global yang lebih lambat, volatilitas mata uang, dan perlambatan konsumsi sektor swasta yang menjadi sumber lebih dari separuh PDB.

Laju inflasi yang rendah didukung oleh peningkatan pengeluaran menjelang pemilu dan membaiknya harga komoditas bisa menjadi pemicu pertumbuhan konsumsi rumah tangga selama periode 2018-2020.

Selain itu, defisit anggaran diperkirakan tetap terjaga pada level 2,3% terhadap PDB pada 2018, sedikit lebih baik dari 2017 sebesar 2,4%, yang didukung oleh membaiknya penerimaan karena meningkatnya harga komoditas dan berjalannya reformasi perpajakan.

Adapun defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar hingga 1,9% terhadap PDB pada 2018, lebih tinggi dari 2017 sebesar 1,7% PDB, seiring dengan penguatan permintaan dalam negeri.

“Meski demikian, risiko dari proyeksi ini adalah kemungkinan meningkatnya proteksionisme global yang bisa membebani pertumbuhan ekonomi dan harga komoditas, serta arus modal keluar sebagai dampak kebijakan normalisasi moneter The Fed,” kata Chaves. (bersambung)

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/macroeconomics/kurangi-ketimpangan-dengan-efisiensi-pengeluaran/173806

Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!