Bisa Kah Saham Blue Chip Digoreng?

Jakarta – Aksi goreng-menggoreng saham bukan istilah asing di dunia pasar modal. Transaksi tidak sehat ini sangat mungkin terjadi di berbagai tingkatan jenis saham sebab gerak-geriknya yang memang sulit terdeteksi apalagi dikendalikan oleh pihak regulator.

Untuk diketahui, goreng saham adalah praktik di mana harga saham bisa rontok hingga level terendahnya, namun kembali melonjak dalam waktu singkat. Pergerakan saham gorengan sangat cepat, namun umumnya tak likuid. Seringkali saham gorengan cuma menjadi mainan bandar karena harganya relatif murah.

Meski terbilang cukup masif, Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengungkapkan bahwa praktik nakal di pasar modal ini tetap bakal kesulitan untuk menyentuh saham blue chip.

Saham blue chip atau saham lapis satu adalah saham yang dianggap berperan dalam menggerakkan IHSG. Kapitalisasi pasarnya bisa mencapai lebih dari Rp 40 triliun.

Saham-saham kategori ini memiliki volatilitas harga yang tidak terlalu tinggi. Tidak banyak terlalu terpengaruh dengan gejolak pasar karena perusahaan dengan saham ini memiliki kinerja yang baik. Di samping itu, fundamental saham ini terbilang kuat.

Jenis saham yang termasuk kategori blue chip adalah saham pilihan yang jadi isi portfolio utama investor institusi dan ritel di bursa seperti Bank BCA, Unilever Indonesia, Bank BRI, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

“Blue chip akan sulit karena saham ini mengandung fundamental yang mumpuni,” ujar Lanjar kepada detikcom, Kamis (2/1/2020).

Besarnya kapitalisasi saham level ini lah yang membuat spekulan kesulitan merekayasa pergerakan harga sahamnya menjadi transaksi semu.

“Iya soalnya blue chip mayoritas memiliki kapitalisasi pasar yang besar sehingga akan sangat sulit dibuatkan transaksi semu oleh oknum,” sambungnya.

Lantas di mana biasanya, praktik goreng saham ini bermain?

Menurut Lanjar, praktik ini hanya dapat menyentuh saham second liner dan subliner saja.

“Saham-saham yang berada di second liner dan subliner,” katanya.

Saham second liner atau lapis dua adalah saham yang memiliki kapitalisasi pasar antara Rp 500 miliar-Rp 10 triliun. Harga sahamnya cenderung fluktuatif dan saham ini terbilang likuid. Sementara, fundamental perusahaan bisa dikatakan cukup baik walaupun masih dalam tahap berkembang.

Harga Saham Lapis Dua tidak semahal Blue Chips dan karena kapitalisasinya tidak lebih besar dari Saham Lapis Satu maka jumlahnya tidak sebanyak Saham Lapis Satu. Berikut ini adalah yang termasuk ke dalam Saham Lapis Dua, yaitu PT Bank Bukopin Tbk, Bumi Serpong Damai Tbk, PT Pakuwon Jati Tbk dan lain sebagainya.

Sedangkan, saham subliner atau saham lapis tiga adalah saham-saham yang dengan harga paling murah dengan kapitalisasinya berada di bawah angka Rp 500 miliar.

Untuk itu saham-saham lapis tiga memiliki volatilitas harga yang tinggi dan menjadi incaran spekulan karena bisa dipermainkan sehingga harganya melonjak. Dalam situasi tersebut, spekulan mengambil keuntungan. Karena itu, saham ini bisa dikatakan sebagai saham gorengan.

Bisa Kah Saham Blue Chip Digoreng?

Simak Video “Buka Perdagangan 2020, Jokowi: Jangan Ada Goreng-goreng Saham!
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)