Boediono Nilai Pemerintah Bisa Contek Kebijakan Ekonomi Orde Baru

Jakarta – Wakil Presiden ke-11 sekaligus mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2008-2009 Boediono menilai pemerintah bisa memetik pelajaran dari kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintahan masa Orde Baru. Khususnya, terkait efektifitas kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintahan kala itu.

Menurutnya, ada kebijakan yang bisa dicontoh dengan suksesnya perekonomian di masa orde baru.

“Melihat ke belakang pengalaman sejarah bangsa di bidang ekonomi, pada orde baru indikator sosial ekonomi kita sangat baik. Ekonomi tumbuh 7% per tahun selama 30 tahun. Kemiskinan tahun 70 itu 60%, 1996 11% ada sesuatu menonjol. Indikator sosial pendidikan kesehatan juga menunjukkan perbaikan,” katanya di Gedung BI, Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Budiono menilai, pengalaman positif yang ada di masa tersebut bisa diimplementasikan ke sikap akan kebijakan-kebijakan yang ditempuh dalam perekonomian saat ini, tanpa perlu kembali ke masa itu.

“Kita perlu menanyakan, hal positif apa yang bisa diterapkan di masa sekarang. Memang auasana politik dan administrasi sekarang berbeda dan suasana global juga berbeda. Tapi menurut saya, ada hal fundamental dalam prestasi tadi yaitu ada kebijakan ekonomi yang efektif,” katanya.

“Kita bisa merasakan saat itu ada policy yang efektif karena ada kontinuitas dalam pelaksanaan dan konsepsi suatu policy. Ada fokus yang jelas dan koherensi policy yang hasilkan outcome baik. Ini terjadi karena memang dalam suasana sistem politik yang tidak seperti sekarang, full demokrasi yang memang diinginkan bangsa kita,” tambahnya.

Boediono mencontohkan, hal bisa ditiru untuk dilakukan pemerintah saat ini adalah kontinuitas, fokus serta koheren dalam menjalankan kebijakan. Meskipun ada tantangan dari luar dan dalam negeri, namun konsistensi dalam kebijakan menurutnya bisa memperbaiki efektifitas kebijakan ekonomi saat ini.

“Saya ingin melihat dari seluruh tantangan itu, salah satu yang paling mendasar adalah untuk memperbaiki kinerja kebijakan kita secara menyeluruh. Perbaikan ini memerlukan hal dan langkah yang mendasar. Dampaknya tidak akan mendasar. Ini kembali pada pentingnya belajar dari pengalaman sejarah apa yang kita alami plus minusnya,” katanya. (eds/dna)