Drama kejar-kejaran OTT pegawai pajak di Babel

Sumber
Tangkapan layar pegawai pajak terjaring operasi tangkap tangan di Kepulauan Bangka Belitung, Senin (9/4/2018).

Tangkapan layar pegawai pajak terjaring operasi tangkap tangan di Kepulauan Bangka Belitung, Senin (9/4/2018). | Tribrata News Babel /YouTube

Operasi tangkap tangan di Kepulauan Bangka Belitung mempertontonkan drama menegangkan. Layaknya sebuah film, operasi ini diwarnai kejar-kejaran di jalanan yang direkam oleh warga dan diunggah ke situs YouTube. Tersangka berusaha kabur dan lari terbirit-birit di jalanan dengan membawa uang yang diduga hasil suap.

Tersangka adalah RA, 31 tahun, pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bangka. Ia terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kepulauan Bangka Belitung pada Senin (9/4/2018) siang. Polda Babel merilis peristiwa yang sempat menjadi sorotan itu pada Senin (16/4/2018).

“Tersangka RA diamankan petugas setelah menerima uang sebesar Rp50 juta dari wajib pajak dengan iming-iming bisa menunda pembayaran pajak yang dikenakan kepada wajib pajak tersebut,” kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Babel, AKBP Indra Krismayadi melalui Antaranews.

Kisah operasi bermula dari pengusaha wajib pajak yang memiliki kewajiban membayar pajak negara atas perusahaannya sebesar Rp700 juta. RA (31) kemudian menghubungi si wajib pajak dan meminta uang Rp50 juta. RA menjanjikan tidak akan dilakukan penagihan terhadap si wajib pajak.

“Setelah merasa ditekan oleh tersangka, korban langsung melapor ke Mapolda Babel bahwa dirinya dimintai sejumlah uang oleh oknum petugas kantor pajak,” ujar Indra.

Meski telah melapor ke polisi, transaksi tetap berlangsung di sebuah rumah makan di Pangkalpinang. Petugas kepolisian menggerebek ke lokasi transaksi itu. RA ternyata berusaha kabur dan lari ke jalan.

Adegan RA lari yang dikejar petugas kepolisian itu menjadi tontonan warga. RA melarikan diri dengan amplop cokelat berisi uang Rp50 juta dalam bentuk pecahan Rp50 ribu. Kepolisian langsung menahan RA karena dianggap tidak kooperatif.

Polisi juga menyita satu unit telepon genggam, kartu kredit dan satu unit mobil Toyota Rush serta beberapa barang bukti lainnya.

RA diduga melakukan pemerasan dan menyalahgunakan wewenang selaku pengawas dan konsultan kantor pajak. Ia dijerat Pasal 12 Undang-Undang Nomor 20/2001 tentang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Sementara pemilik perusahaan yang dimintakan sejumlah uang masih dinyatakan sebagai saksi. Kepolisian tidak memerinci jenis perusahaan yang terlibat dalam kasus tersebut.

Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Bangka, Dwi Hariadi, mengatakan masih menunggu proses hukum yang masih berjalan. “Saat ini baru skorsing. Kalau sudah divonis, kami akan mengacu pada PP Nomor 53/2010 tentang disiplin pegawai. Dia ini kan PNS,” kata Dwi melalui Kompas.com.

Deretan pegawai pajak berkasus

Penangkapan RA di Bangka Belitung menyita perhatian karena adegan kejar-kejaran, meski nominalnya relatif kecil dibandingkan dengan kasus pegawai pajak lainnya.

Nilai uang hasil memeras RA itu hanya 38 kali lebih kecil ketimbang suap terhadap mantan Penyidik Pegawai Negeri Sipil pada Direktorat Jenderal Pajak, Handang Soekarno sebesar US$148.500 atau senilai Rp1,9 miliar.

Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta telah menjatuhkan vonis 10 tahun penjara terhadap Handang pada Senin (24/7/2017). Handang juga diwajibkan membayar denda Rp500 juta subsider 4 bulan kurungan.

Sebelum Handang, kasus pegawai pajak dengan nominal besar dan paling menyedot perhatian adalah Gayus Halomoan Partahanan Tambunan. Potensi kerugian negara dari kasus Gayus ini disebut-sebut mencapai Rp1,52 triliun dari 19 perusahaan di bawah penanganannya.

Gayus divonis atas banyak perkara yang menjeratnya. Ia dihukum 12 tahun untuk korupsi pajak dalam kepengurusan PT Surya Alam Tunggal, 2 tahun dalam kasus paspor palsu saat bepergian ke luar negeri selama masa hukuman.

Gayus juga divonis 8 tahun untuk penggelapan pajak PT Megah Citra Raya. Dalam kasus gratifikasi dan menyuap petugas Rutan Mako Brimob, Gayus pun divonis 8 tahun.

Pada Agustus 2013, Mahkamah Agung menolak kasasi Gayus dalam kasus pencucian uang dan penyuapan penjaga tahanan. Dengan putusan itu, total hukuman yang diterima Gayus adalah 30 tahun pidana penjara.

Gayus di usianya yang terbilang muda (30-an) telah menyita perhatian publik tentang adanya mafia pajak. Hampir berbarengan dengan kasus Gayus, ada juga pegawai pajak muda yang terjerat kasus, yaitu Dhana Widyatmika.

Dhana, lahir pada 3 April 1974, merupakan pegawai pajak golongan IIIC. Ia bekerja sama dengan Herly Isdiharsono mantan Koordinator Pelaksana PPn Perdagangan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Palmerah, Jakarta Barat saat menangani pengurusan pajak PT Mutiara Virgo.

Dhana dan Herly berkongkalikong sehingga utang pajak PT Mutiara Virgo senilai Rp128 miliar hanya tercatat menjadi Rp3 miliar.

Pada 9 November 2012, Dhana dijatuhi hukuman 7 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta. Vonis itu diperberat di tingkat banding menjadi 10 tahun pada awal 2013. MA kembali memperberat hukuman Dhana menjadi 13 tahun penjara.

Adapun Herly, awalnya hanya divonis 6 tahun oleh Pengadilan Tipikor dan dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta pada 4 Juni 2013. Hukuman Herly berlipat dua ketika MA memutuskan hukumannya menjadi 12 tahun penjara pada 2013.

Pegawai pajak lain yang terjerat korupsi adalah Bahasyim Assifie, bekas Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Jakarta VII. Mahkamah Agung memutuskan Bahasyim dihukum 12 tahun penjara pada November 2011.

Pegawai pajak berkasus lainnya adalah dua penyidik pajak Mohammad Dian Irwan Nuqisra dan Eko Darmayanto yang divonis 9 tahun penjara; penyidik pajak Pargono Riyadi yang divonis 4 tahun 6 bulan; serta tiga pegawai pajak Kebayoran Bayu Herry Setiadji, Indarto Catur Nugroho dan Slamet Riyana yang divonis masing-masing 5 tahun.

[embedded content]

Kejar Kejaran Petugas Saat OTT Pegawai Pajak di Bangka Belitung /MS