Ekonomi Hadapi Tantangan Proteksionisme

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan, terdapat tiga faktor yang mendukung pemulihan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 di tengah dinamika perekonomian domestik maupun global.

Pertama, membaiknya pertumbuhan ekonomi dunia yang mendorong peningkatan volume perdagangan dan harga komoditas serta masuknya aliran modal ke negara berkembang termasuk Indonesia. Kedua, terus terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dalam beberapa tahun terakhir. Ketiga, membaiknya keyakinan pelaku ekonomi terhadap perekonomian Indonesia melalui berbagai pengakuan positif dari dunia internasional, peringkat daya saing Indonesia yang membaik, dan meningkatnya peringkat ease of doing business (EODB) serta investasi korporasi. Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja baik meski melambat.

BERITA TERKAIT +

Baca Juga: Perry Warjiyo Jamin Hubungan BI-OJK Makin Mesra

Hal itu terlihat dari awal per tumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,98% lalu naik menjadi 5,03% dan 5,1%. “Itu menunjukkan kondisi yang membaik. Untuk kejar pertumbuhan ekonomi yang baik, perlu diselesaikan tantangan struktural,” kata Agus dalam peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) tahun 2017 di Jakarta, kemarin. Dia mengatakan, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi modal utamanya adalah infrastruktur, kelembagaan, human capital, dan inovasi yang perlu diperbaiki. “Industrinya, kapasitasnya harus diperbaiki supaya industri tidak hanya bergantung pada ekspor komoditas mentah, harus bisa melakukan ekspor bernilai tambah atau hilirisasi,” ungkap dia.

Baca Juga: Perry Warjiyo Janji Bentuk Komite Ekonomi Digital

Selain itu, perlu juga membangun industri yang tidak bergantung pada impor karena bahan baku dan bahan penolong industri banyak impor. Padahal menurut Agus, hal itu seharusnya bisa disediakan di dalam negeri agar kegiatan industri kuat. “Yang tidak ketinggalan adalah soal sumber pembiayaan, harus punya jalan yang kuat untuk biaya kebutuhan industri. Selain itu, jangan bergantung pada dana pemerintah dan luar negeri. Artinya, perlu pendalaman pasar keuangan di dalam negeri agar tidak terus menerus mengalami defisit belanja, yaitu defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal,” kata Agus.

Dalam jangka menengah, kata dia, seiring dengan peningkatan produktivitas perekonomian sebagai hasil reformasi struktural, pertumbuhan ekonomi diperkirakan terus meningkat mencapai 5,8-6,2% tahun 2022. Sedangkan inflasi diperkirakan terkendali dalam kisaran 3 plus minus 1% tahun 2022.

Sebelumnya

1 / 2