Ini Syed Saddiq, Anak Nakal yang Jadi Menteri Termuda di Malaysia

Jakarta – Syed Saddiq, merupakan pemuda 26 tahun ini merupakan petinggi negara termuda di Malaysia. Kini, Syed menempati posisi Menteri Belia dan Sukan Malaysia, alias Menteri Pemuda dan Olahraga kalau di Indonesia.

Muda, tampan, nan berkharisma menjadi kesan pertama bagi yang melihat pria ini. Namun siapa sangka pemuda yang satu ini merupakan pribadi yang cukup nekat dalam menggapai mimpinya.

Dalam kisahnya di hadapan muda mudi milenial pada acara Indonesia Future Fest 2019, Syed mengaku bahwa dirinya orang yang cukup nekat. Dia juga mengaku bahwa dirinya anak yang bengal saat masih kecil.

Syed mengawali kisahnya saat dia masih kecil, menurutnya meskipun ibunya merupakan seorang guru bahkan guru yang dianugerahi sebagai pengajar terbaik seluruh negeri, Syed mengaku waktu kecil dia bukan anak yang jenius.

“Saya bukanlah pelajar yang sangat cemerlang, saya adalah anak sangat nakal. Walaupun ibu saya guru Bahasa Inggris, bahkan dia mendapatkan guru terbaik. Ironis,” kata Syed membuka kisahnya di Mal FX Sudirman, Jakarta, Minggu (31/3/2019).

Syed mengaku waktu kecil dia merupakan anak yang keranjingan bermain games. Tak jarang apabila libur telah tiba dia bisa seharian bermain konsol games bersama temannya.

Melanjutkan ceritanya, Syed juga mengaku dia pernah didepak dari sekolah terbaik di Johor saat umur 13 tahun. Karena kebengalannya itu akhirnya dia dikeluarkan dari sekolah itu, dan ditarik ke sekolah tempat ibunya mengajar.

“Saya dikeluarkan dari sekolah itu dan masuk lah ke sekolah tempat ibu saya belajar. Disana saya nggak bisa nakal, apapun yang saya lakukan diawasi ibu saya,” kisah Syed.

Masuk umur 15 tahun, Syed mengaku menemukan suatu minat yang bisa mengubah hidupnya. Hal tersebut adalah ketertarikannya ke dunia militer, menurutnya ketertarikan tersebut terinspirasi dari karir kakeknya sebagai tentara.

Di umurnya yang masih belia Syed mengatakan dirinya telah mulai membaca materi-materi kemiliteran. Bahkan, dia mengungkapkan pernah mencuri buku militer saking mahal harganya saat itu.

“Saya sering sekali membaca buku bidang ketentaraan. Walaupun buku militer sangat mahal. Ada dua saya ingat judulnya, Prajurit dan Tempur Buku. Saya pernah mencuri buku itu karena mahal harganya,” kata Syed.

“Ini perangai buruk lho ya jangan diikuti,” ungkapnya sambil sedikit berkelakar.

Kenekatan pertama dalam hidupnya adalah saat dirinya mencoba untuk mendaftarkan diri di sekolah militer. “Royal Millitary College Maktab namanya,” kata Syed.

Syed menilai sekolah tersebut merupakan sekolah militer terbaik di Malaysia, dan cukup sulit seleksinya. Setidaknya saat pertama mendaftar saja dirinya telah berkompetisi dengan 10 ribu pendaftar lainnya, dan dia berhasil masuk ke sekolah tersebut.

“Jadi dalam setengah tahun saya persiapkan diri dengan sangat keras. Alhamdullilah, seleksi selesai dari 10 ribu yang mendaftar saya masuk di 200 orang yang lolos seleksi itupun dengan nilai paling pas-pasan,” kata Syed.

Ada kisah unik yang dia ceritakan saat proses seleksi, Syed mengaku fisiknya tidak sempurna dia memiliki riwayat penyakit asma. Namun, menurutnya kemauan yang besar membuat dirinya nekat untuk menghadang semua rintangan.

Bahkan dengan kemauannya tersebut Syed yang memiliki penyakit asma berhasil melewati tes fisik berupa lari sejauh 2,6 kilometer. Namun, dalam perjuangan tersebut dia meminta tolong temannya untuk berjaga di toilet membawa inhaller alias alat bantu bernafas bagi orang asma.

“Saya minta bantuan teman saya, tolong tunggu saya selesai berlari dengan membawa inhaler di toilet kalau tidak begitu bisa mati saya,” kisah Syed.

“2,6 km saya terus berlari. Dengan waktu yang terbatas ini berkat kemauan yang besar, saya pun berhasil,” ungkap Syed.

Kemampuan politik seorang Syed muncul saat dia mendalami ilmu debat. Selain militer, menurut Syed debat juga merupakan minat terbesarnya.

Syed mengaku awalnya dia hanya seorang yang menjadi cadangan saja dalam tim debat, saat seniornya mendebat di atas panggung Syed hanya berada di belakang mereka sambil membawa file-file seniornya.

Namun, Syed terus mengembangkan dirinya hingga akhirnya dia diberi kepercayaan untuk menjadi pendebat. Sampai akhirnya Syed bisa mengharumkan namanya sendiri dengan mengikuti kompetisi debat di mana-mana.

Syed pun pernah menjadi staff riset pada pemerintahan Malaysia, saat itu tempatnya bekerja diterpa skandal money laundry. Syed yang mengetahui semua cerita dibaliknya mengaku sempat mengalami pertentangan batin.

“Saya berhadapan di dua opsi apakah menjadi diam atau saya mengarungi untested route untuk speaking up. Saya mengamankan posisi saya atau saya kehilangan semuanya,” kata Syed.

Setelah pertentangan batin tersebut Syed mengaku memilih hati kecilnya untuk membongkar segala skandal tersebut. Akhirnya, dengan kenekatan dan hati nuraninya dia rela ditekan banyak pihak dan membongkar semua skandal tersebut.

Singkat cerita akhirnya Syed diangkat menjadi menteri setelah tiga bulan mengabdi sebagai wakil rakyat di parlemen Malaysia. Menurutnya, diberikan kepercayaan sebesar itu di umur mudanya merupakan hal yang sangat besar.

“Dipercaya pada posisi tersebut saya selalu percaya merupakan hal yang besar. Saya selalu menjauhi diri saya dari ketidakpercayaan diri dan rasa skeptis serta pesimis, saya akan optimalkan apapun amanah yang datang ke saya,” ungkap Syed.

Syed menambahkan generasi muda tidak boleh acuh kepada dunia politik. Apabila muda mudi suatu negara terus menerus tidak peduli akan pemerintah negaranya bisa saja masalah yang dihadapi negara tersebut tidak selesai.

“Saya selalu bilang agar pemuda itu lebih peduli sama politik. Kalau tidak ada yang peduli sama saja seperti membiarkan masalah yang dilakukan generasi lama terus berlarut, korupsi misalnya,” tegas Syed. (zlf/zlf)