Jurus Bank Indonesia Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih dari 5%

Ada lima kebijakan struktural yang dirilis Bank Indonesia untuk transformasi ekonomi dalam negeri.

tirto.id

Bank Indonesia merumuskan lima hal kebijakan struktural yang perlu difokuskan untuk mentransformasikan ekonomi dalam negeri. Tujuannya agar perekonomian dalam negeri tumbuh lebih kuat, berkesinambungan, seimbang, dan inklusif, dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo menyebutkan pertama, upaya memperkuat daya saing perekonomian melalui peningkatan empat modal dasar pembangunan, yaitu infrastruktur, modal manusia, penyerapan teknologi dan inovasi, serta kualitas institusi atau kelembagaan.

“Ini yang akan membuat pertumbuhan perekonomian kita lebih baik dari kisaran 5 persen,” ujar Agus di Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Kedua, upaya membangun kapasitas dan kapabilitas industri melalui pengembangan industri berdasarkan potensi dan karakteristik masing-masing daerah. Pengembangan sektor ekonomi potensial tentu dikatakannya perlu didukung teknologi tinggi untuk memperkuat struktur ekspor.

“Dalam hal ini Bank Indonesia akan terus mempertajam rekomendasi pengembangan industri potensial di daerah, berdasarkan kajian growth strategy agar dapat menjadi rujukan yang berkualitas bagi pemangku kebijakan,” ungkapnya.

Kemudian ketiga, upaya meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat, di antaranya melalui pemerataan akses pendidikan, kesempatan kerja, penguatan konektivitas antar daerah, dan pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Keempat, upaya untuk memperkuat struktur dan sumber pembiayaan. Ia mengatakan laju pembangunan infrastruktur saat ini, tentu baiknya diikuti oleh kemampuan pembiayaan yang kuat. Bisa disokong dari pemerintah, swasta, maupun dari luar negeri.

“Di sisi memperkuat pembiayaan dari pemerintah, upaya penguatan penerimaan pajak, efisiensi pengeluaran pemerintah, dan strategi pembiayaan fiskal yang berkelanjutan melalui creative financing perlu terus dilanjutkan,” terangnya.

Sementara di sisi swasta, peran sektor keuangan dalam pembiayaan jangka panjang perlu terus ditingkatkan termasuk melalui pendalaman sektor keuangan. Lalu di sisi pembiayaan dari luar negeri, bentuk-bentuk penanaman modal langsung perlu dikedepankan.

Lalu terakhir, upaya mengoptimalkan peluang sembari melakukan mitigasi risiko yang dapat muncul dari perkembangan teknologi digital termasuk teknologi finansial.

“Di dalam kapasitas mereka sebagai sumber baru pertumbuhan ekonomi-ekonomi dalam hal ini Bank Indonesia akan bekerja sama dengan pemerintah dan OJK untuk terus memperkuat koordinasi dan menciptakan pengembangan ekonomi,” jelasnya.

Ia memproyeksikan jika rumusan tersebut diterapkan secara berkesinambungan, maka pertumbuhan ekonomi diproyeksikannya dapat bertumbuh mencapai 5,8 hingga 6,2 persen dengan inflasi diperkirakan terkendali dalam kisaran 3 plus minus satu persen pada 2022.