pmTsHjvii96GPjQAwi-agzZG4CB4ZbnTkjdLI4picFg

Menjadi Raksasa Ekonomi

Sumber

TAHUN 2018 diperkirakan menjadi tahun pembalikan ekonomi global, setelah dirundung kelesuan dalam satu dekade terakhir. Hal ini dapat dibaca dari World Economic Outlook (WEO) yang dirilis oleh Dana Moneter International ( IMF) Januari lalu dengan tagline “Brighter Prospect, Optimistic Market, Challenges Ahead”.

IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2018 mencapai 3,9 persen. Proyeksi ini naik 0,2 persen dari tahun 2017 di level 3,7 persen. Kenaikan proyeksi pertumbuhan ini didorong oleh perbaikan kinerja pertumbuhan di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan zona euro.

Pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2017 diperkirakan di level 2,3 persen. Dan diperkirakan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Kebijakan reformasi pajak dan ekspansi fiskal melalui belanja infrastruktur pemerintah Trump akan mendongkrak kinerja pertumbuhan.

Situasi yang sama juga terjad di zona euro. Kinerja investasi di kawasan ini terus membaik yang tercermin dari tren kenaikan Purchasing Manager Index (PMI). Meski, kawasan ini juga masih terus berjuang untuk mengkungkit pertumbuhan konsumsi. Tren populasi yang menua (aging population) ditengarai jadi salah satu pemicu mandeknya kinerja konsumsi.

Baca juga: IMF Puji Ekonomi Indonesia Berkinerja Baik

Membaiknya tren kinerja pertumbuhan di negara-negara maju itu memberi imbas positif pada kenaikan volume perdagangan global. Jika di tahun 2016, volume perdagangan dunia berada di bawah pertumbuhan ekonomi dunia (tren pelambatan masih terjadi). Maka, sejak tahun 2017, kondisi berbalik, di mana pertumbuhan volume perdagangan global di atas pertumbuhan ekonomi global (ekspansi terjadi).

Meningkatnya volume perdagangan dunia ini berimbas positif pada kenaikan harga minyak dan komoditas dunia. Pada tahun 2017, harga minyak dunia ditutup di atas 60 dollar AS per barrel. Padahal, di awal tahun 2016, sempat menyentuh level terendah, yaitu di bawah 30 dollar AS per barrel. Demikian juga dengan harga komoditas, seperti batu bara, aluminimum, nikel, dan tembaga terus bergerak naik.

Apresiasi harga minyak dan komoditas inilah yang turut mengungkit kinerja pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan, khususnya di kawasan pasar bertumbuh (emerging market) yang selama ini dikenal sebagai basis produsen minyak dan komoditas global.

Memang, akselerasi pertumbuhan ekonomi global ini masih tetap dibayang-bayangi oleh berbagai risiko yang berpotensi menghambat proses akselerasi ini. Itulah sebabnya, IMF mendorong kerja sama yang baik antara pemerintah dan otoritas di berbagai negara mengingat ekonomi dan pasar dunia yang sudah saling terkait.

Baca juga: Ditopang Komoditas, Pertumbuhan Ekonomi Dunia Diprediksi Meningkat

Risiko jangka pendek yang patut diwaspadai  berasal dari dampak kebijakan moneter dan fiskal di negara maju, khususnya Amerika Serikat. Reformasi pajak dan kenaikan lanjutan suku bunga acuan (federal funds rate/FFR) berpotensi memicu volatilitas, khususnya melalui jalur sektor keuangan. Aliran arus dana keluar (capital outflow) berpotensi terjadi, khususnya dari kawasan emerging yang bisa berimbas pada pelemahan nilai tukar dan menganggu stabilitas makroekonomi.

Adapun dalam jangka menengah, risiko yang harus dicermati ialah dampak dari kebijakan proteksionisme perdangangan (inward looking policy), ketegangan geopolitik, khususnya di Asia Timur dan Timur Tengah yang dapat memengaruhi arah harga minyak, faktor politik, seiring dengan adanya sejumlah pemilihan umum (election) di sejumlah negara, seperti Indonesia, Argentina, Kolombia, Italia, dan Meksiko yang berpotensi menghambat proses reformasi ekonomi, serta faktor perubahan iklim.

Industrialisasi

Itulah sebabnya, akselerasi perekonomian global ini harus dijadikan momentum oleh Indonesia untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Harus diakui, bahwa dalam tiga tahun terakhir, kinerja pertumbuhan ekonomi domestik cenderung stagnan di level 5 persen. Padahal, hasil ini masih jauh di dari potensi yang dimiliki.

Oleh sebab itulah, kenaikan harga komoditas global yang terjadi saat ini harus dijadikan momentum untuk mempercepat reformasi sektor manufaktur. Indonesia telah lama mengalami proses deindustrialisasi.

Hal ini dapat dilihat dari kontribusi sektor manufaktur yang terus menicut terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menjual sumber daya alam dalam (SDM) dalam bentuk raw material/semi produk harus secara perlahan dikurangi. Sebaliknya, penciptaan nilai tambah melalui proses industrialisasi harus terus didorong.

Baca juga: IPM Indonesia Naik Jadi 70,81, Harapan Hidup Lebih Panjang

Perlu dicatat bahwa sektor industri merupakan salah satu sektor yang banyak menyerap tenaga kerja (padat karya). Harapannya, dengan kuatnya sektor industri, maka aliran investasi langsung bisa masuk untuk menciptakan banyak tenaga kerja.

Bukan, misalnya, seperti tahun 2017 yang nilai investasi langsung tumbuh sekitar 13 persen,  tetapi jumlah lapangan kerja yang dihasilkan menurun dari tahun sebelumnya. Aliran investasi itu lebih dominan masuk ke sektor-sektor yang padat modal (capital intensive) yang terbatas dalam menyerap tenaga kerja.

Tentu, untuk bisa merealisasikan sektor industi yang kuat dibutuhkan banyak syarat. Salah satunya, tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan terampil.

Sayangnya, menurut data Badan Pusat Statisik (BPS), dari 131 juta angkatan kerja Indonesia sampai Agustus 2017, sekitar 60 persen merupakan lulusan SD dan SMP yang tingkat keterampilannya terbatas.

Untuk mengatasi ini, pemerintah telah mencanangkan untuk mereformasi dunia pendidikan, khususnya pendidikan vokasi yang diarahkan untuk lebih fokus pada keterampilan. Balai-balai latihan kerja (BLK) juga akan kembali dibangkitkan.

Baca juga: Antisipasi Revolusi Industri 4.0, Pemerintah Benahi Pendidikan Vokasi

Selain itu, pemerintah juga mengkaji pemberian insentif fiskal bagi industri yang menerapkan  pendidikan vokasi dan menerapkan inovasi penelitian dan pengembangan.

Itulah sebabnya, reformasi ini harus terus dikawal dan dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan, sehingga tidak ‘menguap’ di tengah jalan, seperti yang telah terjadi sebelumnya.

Jika Indonesia bisa merealisasikan sektor industri yang kuat yang didukung oleh SDM yang terampil serta regulasi yang baik, maka jalan menuju negara dengan perekonomian raksasa seperti yang diramalkan oleh banyak pihak bisa terwujud.

Sebagai penutup, Indonesia jangan mudah tergoda dan beralih memperbesar industri digital, (meski itu sebuah keniscayaan ke era ‘now’, imbas dari inovasi yang tak bisa dikungkung), tanpa memperkuat sektor industrinya.

Bagaimanapun, tidak ada negara dengan kekuatan ekonomi raksasa, tanpa ditopang oleh sektor industri yang kuat dan maju. 

Baca juga: Presiden: 2030, RI Masuk 10 Besar Negara dengan Perekonomian Terkuat


Fatal error: Uncaught wfWAFStorageFileException: Unable to save temporary file for atomic writing. in /home2/corongid/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:29 Stack trace: #0 /home2/corongid/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(567): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home2/corongid...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig() #2 {main} thrown in /home2/corongid/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 29