Optimisme Pajak

Sumber

Optimisme Pajak
Kamis, 12 Juli 2018 | 10:57

Para wajib pajak memenuhi kantor pajak untuk mengikuti program pengampunan pajak di Gedung Pajak Madya Jakarta, Jakarta. Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao.Para wajib pajak memenuhi kantor pajak untuk mengikuti program pengampunan pajak di Gedung Pajak Madya Jakarta, Jakarta. Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao.

Di tengah tingginya volatilitas di pasar finansial yang membuat ketar-ketir investor dan otoritas moneter-fiskal, kabar menyejukkan datang dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Perolehan pajak hingga semester I-2018 telah mencapai Rp 581,5 triliun atau 40,8% dari target Rp 1.424 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 13,96% dibanding periode sama tahun 2017.

Yang menggembirakan, penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan naik 24%, PPh orang pribadi tumbuh 20%, serta pajak pertambahan nilai (PPN) dalam negeri meningkat 9,1%. Dengan pencapaian ini, DJP optimistis target tahun ini bisa terpenuhi, dengan pertumbuhan 17- 18% dibanding tahun lalu.

Apalagi, secara siklus, penerimaan pajak pada semester II cenderung lebih tinggi dibanding semester pertama. Bukan hanya penerimaan perpajakan yang memberikan optimisme baru, tapi juga penerimaan negara nonpajak diprediksi melampaui target yang diskenariokan. Terutama penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang didukung oleh tingginya harga minyak mentah.

Tren positif itulah yang membuat Menteri Keuangan percaya diri bahwa untuk tahun ini pemerintah tidak akan mengajukan APBN Perubahan. Performa penerimaan pajak ini memberikan harapan baru di tengah pesimisme yang belakangan ini melanda banyak pelaku pasar, karena kurs rupiah yang terombangambing dan indeks harga saham yang fluktuatif akibat diterpa isu kenaikan suku bunga The Fed dan perang dagang Amerika Serikat versus Tiongkok.

Penerimaan PPh badan maupun PPh pribadi yang tumbuh tinggi mencerminkan kondisi perusahaan- perusahaan di Indonesia yang cukup solid. Tingkat profitabilitas cukup meyakinkan. Demikian pula pertumbuhan PPN yang cukup baik, merefleksikan ekonomi tetap berjalan.

Kondisi ini tentu saja dapat menetralisasi pesimisme yang kerap dilontarkan pengurus Kadin Indonesia dan Apindo bahwa dunia usaha saat ini sedang wait and see karena adanya ketidakpastian dan kurangnya kepercayaan mereka terhadap kondisi perekonomian. Perkembangan ini juga menggembirakan lantaran data empiris menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, realisasi penerimaan pajak cenderung di bawah target.

Setelah tahun 2008 realisasi pajak mencapai 108% dari target, DJP selalu gagal meraih target penerimaan sejak 2009 hingga tahun lalu. Penerimaan pajak sempat ter tolong karena adanya program amnesti pajak. Jika dicermati, kinerja perpajakan yang membaik merupakan dampak positif dari berbagai upaya yang dilakukan oleh DJP. Di antaranya adalah tingkat kepatuhan wajib pajak yang meningkat. DJP mengklaim, tingkat kepatuhan saat ini mencapai 73%. Jumlah wajib pajak juga meningkat jadi 38 juta, baik badan maupun perorangan.

Ke depan, tingkat kepatuhan membayar pajak bisa digenjot lagi lewat berbagai upaya, seperti sosialisasi yang lebih gencar, perbaikan administrasi perpajakan, kemudahan dalam membayar pajak, formulir perpajakan yang lebih sederhana, serta penegakan hukum yang lebih tegas kepada para pengemplang pajak.

Di lain sisi, masyarakat juga akan lebih patuh dan rela membayar pajak jika peruntukannya tepat. Misalnya, dana pajak lebih diprioritaskan untuk belanja infrastruktur yang mampu memberikan multiplier ef fect bagi perekonomian, belanja pendidikan dan kesehatan, serta belanja sosial yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Yang tidak kalah penting, harus diimbangi dengan pelayanan birokrasi yang lebih baik, serta berbagai kemudahan urusan yang terkait dengan birokrasi. Masyarakat akan malas membayar pajak jika kondisi infrastruktur tetap buruk. Mereka tidak akan patuh bayar pajak jika birokrasi tidak memberikan pelayanan yang semestinya.

Dan ingat, kepatuhan para wajib pajak bisa tergerus jika semakin banyak pejabat dan birokrasi yang digaji dengan uang rakyat terbukti melakukan tindak pidana korupsi.

Sementara itu, saat ini tuntutan dunia usaha untuk memberikan insentif pajak kian gencar, untuk mendorong investasi dan bisnis. Insentif pajak berpengaruh terhadap peringkat daya saing sebuah negara. Semua negara berlomba memberikan insentif pajak yang atraktif untuk menyerap investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) sebanyak mungkin.

Dalam konteks itu, pemerintah tetap perlu memberikan insentif pajak secara selektif tapi mampu memberikan efek yang besar untuk perekonomian. Insentif-insentif pajak mungkin dalam jangka pendek akan memangkas penerimaan, namun dalam jangka panjang justru mampu mendongkrak setoran pajak karena melonjaknya investasi. Yang penting juga, pemerintah jangan terlampau mengobral insentif.

Kita semua tahu bahwa pajak menjadi instrumen yang sangat penting bagi kemandirian dan kedaulatan bangsa. Pajak juga menjadi alat strategis bagi pemerataan dan desain kebijakan. Itu sebabnya, penerimaan pajak harus benar-benar dikawal dan dikelola dengan baik.

Pencapaian pajak tahun ini yang di luar ekspektasi diharapkan meningkatkan kredibilitas APBN kita yang selalu dihantui defisit. Terlebih lagi perekonomian nasional saat ini juga masih digelayuti oleh defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan. (*)

Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!


Fatal error: Uncaught wfWAFStorageFileException: Unable to save temporary file for atomic writing. in /home/corongid/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:30 Stack trace: #0 /home/corongid/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(648): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home2/corongid...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig('transient') #2 {main} thrown in /home/corongid/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 30