Pengusaha Sebut Gula Susah Dicari karena Pemerintah Telat Impor

Sumber

Jakarta

Asosiasi Gula Indonesia (AGI) buka suara terkait kelangkaan gula yang terjadi akhir-akhir ini. Dengan langkanya barang di pasar, membuat harga gula naik di atas harga eceran tertinggi (HET), yang semestinya tak lebih dari Rp 12.500/kilogram (kg) kini bisa mencapai Rp 18.000/kg.

“Ya itulah hukum ekonomi. Barang langka, harga bisa naik 200-300%,” kata Tenaga Ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Yadi Yusriadi kepada detikcom, Kamis (19/3/2020).

Direktur Eksekutif AGI Budi Hidayat menyebut kelangkaan gula yang terjadi akhir-akhir ini lantaran kebijakan impor dari pemerintah yang dinilai terlambat.

“(Gula seret) itu karena impornya datangnya telat. Itu yang jadi pemicu. Kalau itu datang tepat waktu saya pikir nggak terlalu banyak lah kurangnya,” ungkap Budi.

Budi cerita, awalnya diputuskan impor sebanyak 495.000 ton pada Oktober 2019, namun yang terealisasi hanya 438.000 ton. Dari total impor itu, diperkirakan sampai akhir Maret ini baru masuk semua dan hanya cukup sampai kebutuhan Ramadhan.

“Awalnya kan sudah dilakukan rakortas (rapat koordinasi terbatas) pada Oktober 2019, disetujui ada 495.000 ton. Nah itu sudah datang semua apa belum? Itu yang jadi pemicu (gula seret). Dari 495.000 ton tapi dapat izin 438.000 ton. Kalau itu surat izin impornya cepat keluar, pelaksanaannya cepat dilaksanakan akan lebih cepat datangnya. Nggak sampai Maret lah orang dari Oktober 2019. Tapi itu baru keluar Januari sebagian, Februari sebagian,” terangnya.

Simak Video “Tok! Penyuap Dirut Perum Perindo Divonis 1,5 Tahun Penjara
[Gambas:Video 20detik](fdl/fdl)