Ramadhan dan Pengampunan Pajak

indexEntah kebetulan atau tidak bertepatan dengan bulan Ramadhan pemerintsh bersama DPR menggolkan uu yang bernuansa ampunan. Ramadhan membawa spirit dibukanya pintu-pintu ampunan bagi manusia yang tidak luput dari bentuk dosa yang sengaja atau tidak disengaja.

Ampunan dapat dilihat dari dua sisi pertama ampunan Tuhan terhadap mahluknya dan ampunan individu terhadap individu lainnya. Untuk hubungan sosial kemasyarakatan Tuhan pun mensyaratkan ampunan sesama manusia sebagai dasar pemberian ampunan-Nya. Bukankah seorang anak meminta maaf kepada kedua orang tuanya sebagai syarat ridho Tuhannya?

Menjadi menarik ketika hubungan ampunan mengatur hubungan individu dengan  negaranya. Negara sebagai pengejawantahan kumpulan individu yang saling berinteraksi bersepakat melalui wakilnya untuk membuka pintu ampunan dari “kesalahan” yang bisa dalam konteks sengaja atau tidak.

Bentuk ampunan tidak akan terlepas dari apakah seseorang berhak diampuni atau tidak oleh negaranya. Apakah pengampunan itu wujud seseorang dianggap  memiliki  “dosa” atau tidak,  bisa menimbulkan perbedaan pemikiran. Apakah seseorang layak diampuni atau tidak karena stigma negatif dosa yang sudah kadung disematkan.

Pemilihan kebijakan ampunan  dapat dipandang sebagai upaya mengurangi mudharat dibandingkan manfaat. Pola pikirnya bisa dimulai mudharat apa yang dihindari. Bukan pada manfaat apa yang sebesar-besarnya bisa didapat tetapi mudharat apa yang bisa dihindarkan seoptimal mungkin oleh negara.

Dalam hal negara memiliki banyak kebutuhan untuk mensejahterakan warganya dan pilihan menambah basis pajak seperti pemajakan tol dan sebagainya sulit direalisasi dan tarif pun sulit dinaikan, maka pilihan tax amnesty dapat dilihat sebagai sesuatu yang bisa dipahami.

Terlepas pada pro kontra manfaat yang bisa diraih, seyogyanya kita bisa mulai berpikir bagaimana seyogyanya mudharat yang akan terjadi dapat dihindari. Disinilah bahwa substansinya bukan berawal pada manfaat tetapi kemudharatan apa yang bisa terhindarkan seandainya Tax Amnesti diberlakukan.

Negara tidak hanya berpikir sebatas nilai manfaat hanya dari sisi pajak, tetapi bagaimana uang masuk bisa dilihat sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Seandainya banyak infrastruktur fisik dan non fisik gagal dilaksanakan bukannya warga negara sendiri yang ikut menanggung “dosa” nya.

Disinilah ampunan harus dipandang sebagai sebuah pilihan yang layak diambil  meskipun itu tidak.menyenangkan semua pihak yang juga mempunyai hak bicara dan
Ingin didengarkan pandangannya.

Selamat datang ampunan di bulan yang penuh ampunan. Mungkin ini saat yang tepat untuk saling memaafkan termasuk pintu maaf  institusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *