Simak rekomendasi sektor pertambangan logam dan mineral

Sumber

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di kuartal pertama tahun ini, kinerja sektor pertambangan logam dan mineral sebagian besar catatkan kinerja positif. Terutama pada emiten yang memproduksi nikel dan emas. Namun, emiten yang memproduksi timah masih mengalami penurunan kinerja. Analis memproyeksikan di semester II 2018 kinerja sektor pertambangan logam dan emas akan membaik karena cuaca bersahabat sehingga dapat menggenjot produksi.

Sejak awal tahun harga nikel naik 8,3% menjadi US$ 13.820 per metrik ton. Kenaikan harga tersebut turut mengerek kinerja emiten yang memproduksi logam silver ini. Emiten produsen nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) misalnya, di periode yang sama mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 28,34% year on year (yoy) menjadi US$ 374 juta. Sementara laba bersih komprehensif periode berjalan mencapai US$ 29,5 juta dari periode sama tahun lalu yang membukukan kerugian US$ 21,6 juta.

Adolf Surtisno, Analis Panin Sekuritas mengatakan, harga nikel hingga akhir tahun masih bisa menguat karena ketersediaan global turun. “Inventory nikel di global sampai dengan Juli 2018 menurun, jadi ada peluang untuk harga naik, ” kata Adolf, Jumat (10/8).

Aditya Eka Prakasa Analis BCA Sekuritas menambahkan, meski eskpor bijih nikel dari Indonesia telah dilakukan, defisit global masih terjadi. “Kami belum melihat adanya peningkatan pasokan nikel di pasar global secara signifikan ditambah ekspor Filipina yang lemah, kami percaya defisit nikel saat ini akan bertahan hingga 2019,” kata Aditya dalam riset tanggal 27 Juli 2018. Aditya menaikkan harga rata-rata nikel di akhir tahun menjadi US$ 14.500 per ton. Per Jumat (10/8), harga nikel di London Metal Exchange (LME) berada di US$ 13.820 per metrik ton.

Sementara mengenai produksi nikel, Aditya mengatakan, produksi nikel oleh INCO mencapai 80.000 ton per tahun. Ia memproyeksikan kapasitas produksi tersebut akan tetap sama hingga 2019. Kenaikan produksi mencapai 90.000 ton per tahun bisa dicapai bila INCO berhasil mengoperasikan lahan Sorowako di Sulawesi Selatan pada 2022.

Selanjutnya, harga emas sejak awal tahun tercatat merosot 8,4% ke US$1.219 per ons troi. Andy Wibowo Gunawan, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan, laba bersih PT Aneka Tambang (ANTM) di kuartal II 2018 akan sedikit menurun 0,4% secara kuartalan menjadi Rp 244, 8 miliar.

Kinerja ANTM yang diproyeksikan flat juga terjadi karena tekanan pelemahan rupiah. Sebab sebanyak 70% total utang ANTM yang berjumlah Rp 10,3 triliun hingga kuartal I 2018 dalam mata uang dollar AS.

Salah satu faktor negatif datang dari produksi yang juga menurun. Hingga kuartal II 2018, produksi emas dari PT Aneka Tambang (ANTM) turun 6,6% quater on quarter (qoq) menjadi 503 kilogram. Penurunan produksi juga terjadi pada komoditas nikel. Hal tersebut membuat volume penjualan nikel oleh ANTM menurun 48,8% qoq menjadi 649.000 wmt.

“Penurunan produksi emas dan nikel di awal tahun terjadi karena kondisi cuaca yang tidak mendukung,” kata Andy dalam riset 8 Agustus 2018. Namun, Andy memproyeksikan produksi nikel dan emas akan digenjot ANTM karena cuaca biasanya lebih baik di semester II.

Selanjutnya, sejak awal tahun harga timah tercatat turun 2.62% ke US$19.500 per metrik ton. Emiten produksi timah, PT Timah Tbk (TINS) hingga kuartal I 2018 masih catatkan penurunan tipis 0,62% yoy menjadi Rp 2,04 triliun. Penurunan ini terjadi seiring volume penjualan yang juga turun 16,69% yoy menjadi 5.801 metric tons.

“Cuaca yang tak mendukung serta kebijakan regulasi baru mengenai ekspor timah jadi tekanan ke kinerja TINS,” kata Adolf. Ekspor TINS terhambat sejak Maret 2018 karena terbitnya Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 11/2018 tentang Tata Cara Pemberian Wilayah, Perizinan, dan Pelaporan Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Mandeknya kegiatan ekspor TINS lantaran pihak Kementerian Perdagangan (Kemdag) belum mengubah aturan mainnya. Persetujuan ekspor masih memerlukan rekomendasi ekspor atau eksportir terdaftar dari Kementerian ESDM. Sementara dalam Permen 11/2018 itu salah satu poinnya menghapus rekomendasi ekspor dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. Sehingga kegiatan ekspor bisa dilakukan tanpa persetujuan Kementerian ESDM dan bisa langsung diajukan ke Kementerian Perdagangan. Manajemen TINS mengaku aturan tersebut diberlakukan tanpa ada masa transisi. Sehingga, kegiatan ekspor timah milik TINS berhenti sejak jatuh temponya izin ekspor pada 6 Maret 2018.

Adolf memperkirakan karena masalah tersebut, produksi TINS di kuartal II 2018 masih akan turun. Namun, untuk kuartal selanjutnya produksi TINS akan mecapai target dan menggenjot produksi karena juga mendapat katalis positif dari cuaca panas yang datang di paruh kedua tahun ini.

Sukisnawati Puspitasari, analis MNC Sekuritas memproyeksikan harga timah akan meningkat di semester II 2018 meski secara terbatas. “Pemerintah menaikkan pajak royalti penambangan timah menjadi 3,5% sehingga produksi timah CHina di semester II 2018 menurun dan berpotensi menyebabkan pasokan timah global berkurang dan harga logam ini bisa menguat,” tulis Sukisnawati dalam riset 11 Mei 2018. Penguatan harga timah jadi terbatas karena permintaan timah Suksnawati proyeksikan tidak akan melampaui melemahnya pasokan timah global.

Sementara untuk harga nikel, Sukisnawati memproyeksikan, di tengah defisit pasokan global, permintaan akan logam ini akan tetap stabil. Katalis positif harga nikel datang dari ketidakpastian pasokan nikel dari Filipina dan kondisi geopolitik Rusia.

Penggunaan nikel sebagai bahan baku baterai di China juga naik 26,88% yoy di kuartal I 2018. Hal tersebut mempertahankan permintaan nikel melalui baterai China. Namun, persediaan baja China yang tinggi juga bisa menghambat konsumsi nikel di China.

Sementara , tantangan bagi harga timah adalah kenaikan pajak royalti China yang membuat produsen timah memangkas produksi sehingga menurunkan pasokan timah. Selain itu, harga timah cenderung tumbuh moderat karena melambatnya produksi telepon genggam global.

Di tengah kondisi tersebut, Sukisnawati memasang rekomendasi neutral pada sektor pertambangan logam mineral. Namun, masih merekomendasikan buy untuk ANTAM dengan target harga Rp 1.030 per saham. Sukisnawati juga merekomendasikan buy untuk INCO dan TINS masing-masing dengan target harga Rp 3.620 per saham dan Rp 1.250 per saham.

Sementara, Adolf menjagokan ANTM dibading emiten lain di sektor ini, karena memiliki diversifikasi produk yang lebih beragam. Selain itu, kinerja ANTM ia proyeksikan akan positif karena sudah mendapat rekomendasi perpanjangan ekspor bijih nikel dan bauksit.

“Stok bijih nikel kadar rendah di smelter Poomala sudah banyak dan di 2014 belum bisa dijual, sekarang sejak 2017 sudah bisa jual, jadi bisa tingkatkan kinerja hingga akhir tahun,” kata Adolf. Adolf merekomendasikan buy untuk ANTAM di target harga Rp 1.100 per saham.

Reporter: Danielisa Putriadita
Editor: Komarul Hidayat

EMITEN

[embedded content]