Suka Duka Jadi Perias Jenazah

Jakarta – Gloria Elsa Hutasoit mungkin memang terlahir untuk menjadi perias jenazah. Sudah bertahun-tahun dia melakoni profesinya, meskipun dia memberikan jasanya secara cuma-cuma.

Elsa, begitu sapaan akrabnya, mengaku sudah sejak remaja merias mayat. Ibu bekerja di sebuah rumah sakit dan bertugas untuk memandikan jenazah. Saat itulah dia sering diajak ibunya untuk merias jenazah yang tak mampu membayar jasa perias.

“Saat itu usia saya masih belasan tahun. Kebetulan saya sudah belajar makeup standar. Sering bantuin makeup mama buat keluarga yang kurang mampu. Karena meninggal di kristiani itu mengeluarkan banyak biaya. Alangkah baiknya saya bisa memberikan sesuatu,” ujarnya saat berbincang dengan detikcom.

Elsa memang sudah dikenal sebagai perias wajah tanpa memungut sedikit pun bayaran. Sejak dia kembali menjalani profesi ini pada 2016, dia sudah bernazar bahwa dia akan merias jenazah secara gratis.

Meksi begitu menurutnya profesi sebagai perias jenazah terbilang cukup menguntungkan. Bayaranya juga sama seperti perias manusia hidup, semakin ahli dan semakin mahal peralatan yang dia pakai biasanya tarifnya juga akan lebih mahal. Bagi sebagian orang yang memiliki harta banyak rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk melihat jenazah tampil menawan.

Namun, perias jenazah sama seperti profesi lainnya tentu ada suka duka yang didapat. Dukanya perias jenazah harus siap kapanpun ketika ada panggilan bertugas.

Sebab makeup jenazah akan bisa dilakukan dengan baik maksimal 2 jam setelah kematian. Kulit jenazah jika sudah meninggal lebih dari 2 jam biasanya pori-porinya sudah tertutup. (das/zlf)