Temanggung Jadi Produsen Bawang Putih Kedua Terbesar di RI

Temanggung – Kabupaten Temanggung merupakan sentra nasional penghasil bawang putih kedua setelah Lombok Timur, NTB. Saat ini, ada lahan seluas 3.300 hektare yang ditanami bawang putih. Diharapkan nantinya luas lahan tanaman bawah putih di Kabupaten Temanggung ditargetkan bisa mencapai 10.000 hektare.

“Ya ini sentra kedua nasional setelah Lombok Timur. Dia terluas, ini nomor dua. Nah ini ada potensi 10.000 (hectare), jadi kontribusinya semakin besar tahun ini,” kata Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi di sela-sela Panen Raya Bawang Putih di Desa Petarangan, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Kamis (28/3/2019).

“Lombok Timur luas tanamannya sekitar 2.000 sampai 3.000 hektare, hampir sama kok,” ujarnya.

Adapun panen raya bawang putih yang dilangsungkan di Desa Petarangan, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung berada di lereng Gunung Sumbing. Sedangkan total luasan tanaman bawang putih di Kabupaten Temanggung ada 3.300 hektare.
“Hari ini, saya bersyukur dan apresiasi kepada Kabupaten Temanggung bisa panen di lokasi ini 400 hektare dan total pertanaman se-Temanggung ada 3.300 hektare. Ini akan dipanen semua dan seluruh hasil panen akan diproses dijadikan benih,” kata Suwandi.

Sementara, Bupati Temanggung M Al Khadziq mengatakan, potensi lahan di Kabupaten Temanggung yang bisa ditanami bawang putih seluas 10.000 hektare. Sedangkan untuk sampai tahun ini baru bisa tanam di lahan seluas 3.300 hektare.

“Ya potensi lahan di Kabupaten Temanggung ada 10.000 hektare lebih sedikit ya. Nah sementara sampai tahun ini, baru bisa tanam 3.300 hektare. Oleh karena itu, kita serukan kepada petani agar hasil panen yang 3.300 hektare ini semuanya dijadikan benih saja. Kemudian kita tanam sendiri, swasembada benih maka luasannya bisa 3 kali lipat. Jadi bisa 10.000 hektar, semua potensi bisa kita tanami. Lahan ada di sekitar 7-8 kecamatan di Kabupaten Temanggung. Dan setelah kita bisa mencukupi kebutuhan sendiri, maka ini dijadikan bawang konsumsi,” katanya.

“Kita serukan agar dibuat bibit, di samping dibibit harga jualnya lebih tinggi daripada dijual sebagai harga konsumsi. Karena kalau harga konsumsi sekilo paling cuman Rp13.000-Rp15.000, sementara kalau dijadikan bibit sekilo bisa Rp 50.000-Rp 60.000, minimal Rp 50.000. Tinggal dia simpan, ada beda treatment dijadikan bibit sama konsumsi itu. Tinggal disimpen saja sudah bisa jadi bibit,” ujar dia.

(zlf/zlf)