The Fed Diprediksi Naikkan Suku Bunga Lagi, Apa Dampaknya ke Indonesia

Sumber

New York Federal Reserve Bank

New York Federal Reserve Bank (Foto: REUTERS/Brendan McDermid)

Bank sentral AS, Federal Reserve, diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan atau the Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,75-2% pada Rabu (13/6). Jika demikian, ini adalah kali kedua The Fed naikkan suku bunga di 2018, sebelumnya pada Maret juga naik sebesar 25 bps.

Para dewan gubernur The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) memandang kondisi ekonomi Negeri Paman Sam tersebut sudah berangsur membaik di tahun ini. Ekonomi AS pada kuartal I 2018 tumbuh 2,3%, di atas prediksi para ekonom dan analis yang hanya 2%. Tingkat inflasi pada April juga sebesar 2,5%, di atas prediksi ekonom sebesar 2%.

Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, pulihnya ekonomi AS ini juga didorong oleh stimulus fiskal berupa pemotongan tarif pajak badan. Ini membuat level pengangguran turun ke level 3,8%.

“Selain stimulus pajak juga kondisi tenaga kerja yang membaik, di mana tingkat pengangguran relatif rendah yakni di bawah 4%,” ujar Piter kepada kumparan, Rabu (12/6).

Menurutnya, saat ini mulai terjadi tren level bunga tinggi. Ini disebabkan The Fed yang masih akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak tiga sampai empat kali ke level normal sekitar 2-3%.

Poster layanan kantor pajak AS.

Poster layanan kantor pajak AS. (Foto: REUTERS/Shannon Stapleton)

Jika Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan dua hingga tiga kali di tahun ini, maka tak akan membuatnya berada di level tinggi 7,5% seperti beberapa tahun lalu, melainkan hanya di level 5-5,5%.

Piter bilang, tingkat suku bunga BI yang belum terlalu tinggi ini dapat memberikan dampak positif, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat mempercepat penyaluran kredit ke sektor riil.

Baca Juga :

“Maka dapat dipastikan tidak ada lagi ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga. Yang ada adalah menaikkan suku bunga. Tapi itu bukan berarti kiamat bagi perekonomian kita,” katanya.

Namun demikian, akibat dari kenaikan suku bunga The Fed adalah gap antara suku bunga acuan BI dan The Fed semakin menyempit. Ini menyebabkan investor asing dapat kembali mengalihkan portfolionya ke AS.

Ilustrasi Uang

Petugas sedang menata uang di Bank Indonesia (Foto: Aditia Noviansyah)

Interest rate differential antara kita dan AS akan kembali menyempit. Akan kembali ada potensi investor asing mengalihkan portofolionya dari indonesia ke AS dan berujung tekanan terhadap rupiah,” jelas Piter.

Untuk menghindari tekanan terhadap rupiah, Piter memprediksi BI akan kembali menaikkan suku bunga acuannya 25 bps. Namun menurutnya pelaksanaan kenaikannya belum akan dilakukan dalam waktu dekat ini, mengingat selama Mei lalu BI telah dua kali menaikkan suku bunga acuan dengan total 50 bps ke level 4,75%.

Selain itu, dampak dari kenaikan suku bunga acuan BI pada bulan lalu mulai dirasakan ke nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mulai menguat. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Jumat (8/6), kurs rupiah mencapai Rp 13.902/USD, menguat dibandingkan Jumat (25/5) yang berada di level Rp 14.166/USD.

“Untuk menghindari ini (tekanan rupiah), BI besar kemungkin meresponnya dengan menaikkan suku bunga BI sebesar 25 bps juga,” tambahnya.