Ragam kontroversi di Kalibata City

Belum sampai lima tahun kompleks rumah susun Kalibata City, Jakarta Selatan, berdiri, sejumlah masalah seolah tak henti merundung. Sepanjang keberadaannya, beberapa problem seperti peredaran narkoba, praktik pelacuran, dan kehadiran warga asing acap muncul sebagai menu di media.

Hal yang disebut terakhir baru saja menjadi perhatian pihak berwenang. Dasarnya adalah data kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta lansiran Merdeka yang menunjukkan 11 ribu warga asing ada di Jakarta Selatan. Menurut laman itu, dari total jumlah penghuni rusun yang mencapai lebih dari 2.600 jiwa, 20 persen di antaranya warga asing.

Pada sebuah penggeledahan di lokasi yang berdekatan dengan Taman Makam Pahlawan Kalibata Februari lalu, kepolisian resor Jakarta Selatan menangkap sejumlah warga asing dalam kaitannya dengan narkoba.

Selain itu, sejumlah warga asing di Kalibata City dituding sering melecehkan penghuni. “WNA berkulit putih dan hitam itu sama saja. Rata-rata mereka itu cakep jadi orang kita itu diperdaya oleh mereka. Banyak orang kita yang dibohongi oleh mereka. Maaf ya, mereka itu sampai menghamili orang kita,” kata Musdalifah, ketua perkumpulan pemilik dan penghuni rusun (P3SRS), dilansir Republika.

Kantor imigrasi pun mengawasi rusun secara ketat dengan mengukuhkan Tim Pengawasan Orang Asing (TimPora) yang bakal berkantor di kawasan itu pada Rabu (25/5) demi menggerus problem yang biasa ditimbulkan oleh warga asing.

Dalam urusan prostitusi, pihak kepolisian membekuk seorang muncikari berinisial N, 25 tahun, pada 16 Mei lalu. Laman Kompas memberitakan pencokokan berlangsung di unit rusun yang biasa dimanfaatkan untuk lokasi layanan pelacuran.

“Pelaku bukan hanya menyediakan atau menjadi perantara, tetapi juga menyediakan fasilitas prostitusi tersebut di salah satu apartemen,” ujar Kepala Polres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Tubagus Ade Hidayat.

Menurut Tubagus Ade, N melemparkan tawaran lewat “situs online“, meski “tidak bisa juga langsung memesan.” Proses tertentu mesti dilewati lebih dulu sebelum beberapa nama anak buahnya diajukan.

N sendiri tidak tinggal di unit apartemen itu. Ia hanya berkunjung untuk bertransaksi atau mengecek pelanggan.

Setahun lalu, seorang tersangka pria berinisial FMH, 25 tahun, ditahan karena diduga menjadi bagian dari sindikat pelacuran yang melibatkan pekerja di bawah umur. Tugas rutin FMH adalah menyiapkan pelacur dari satu menara rusun yang disewa sebagai tempat tinggal ke menara rusun lain yang menjadi lokasi pelayanan.

Sebelumnya, para “pelanggan sudah diperlihatkan foto wanitanya lewat Internet maupun BlackBerry Messenger,” ujar Kepala Unit V Sub Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Rita Iriana dikutip Kompas.

Selama enam bulan ini, dua unit apartemen di Apartemen Kalibata City, ternyata dijadikan tempat tinggal pekerja seks di bawah umur sekaligus tempat mereka melayani pelanggannya.

Pada Februari 2016, Direktur Psikotropika dan Prekursor Badan Narkotika Nasional (BNN) Brigadir Jenderal Anjan Pramuka mengatakan bahwa rusun itu disinyalir menjadi salah satu lokasi peredaran narkoba yang melibatkan jaringan internasional. “Di sini ada beberapa sindikat peredaran yang cukup signifikan,” ujarnya dikutip Liputan6.

Beberapa bulan setelah pernyataan itu terlontar, seorang warga negara Nigeria berinisial AKO, 26 tahun, dibekuk karena dicurigai terlibat sindikat internasional narkoba.

Diwartakan Tempo, AKO ditangkap setelah kepolisian menjaring pria berinisial JC di Jakarta Barat, yang lantas meninggalkan petunjuk ke arah Kalibata City

BNN pernah mengira rusun tersebut pernah menjadi markas gembong narkoba asal Slovakia bernama Zuzana. Namun, saat berlangsung penggerebekan, Zuzana diduga telah melarikan diri.

Source :

Beritagar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *