Sinarmas World Academy (SWA), Sekolah Orang Tajir Berulah, Dirjen Pajak dan Mendikbud Didesak Bertindak

SWA

Jakarta.Corong.ID Sekolah Mahal Sinarmas World Academy (SWA) berdiri di lahan seluas 51.946 meter persegi di Jalan Pahlawan Seribu, CBD Lot XV, Kelurahan Cilenggang, Serpong, BSD City, Tangerang. Sekolah tersebut diperkenalkan kepada publik pada 3 November 2007.

Sekolah ini “menghadirkan” kurikulum IB dan menggunakan laptop Apple Macintosh generasi terbaru untuk murid-muridnya.Sinarmas World Academy memiliki fasilitas yang didesain untuk menampung 1200 pelajar terdiri dari gymnasiums, lapangan olahraga, pusat kebugaran, kolam renang, arena pertualangan, studio seni, studio musik, tari dan drama, lab. canggih, bioskop, perpustakaan, IT help desk, toko dan cafe juga snack bar dan fasiilitas mewah lainnya.

Jika anda bermimpi ingin menyekolahkan anak anda kesini, dari sumber yang tidak mau disebutkan namanya maka siap siap merogoh kocek 200 juta rupiah, dengan denda keterlambatan 50 juta rupiah. Tentu tidak sembarang orang yang bisa sekolah disini.

Baru baru ini,Orangtua murid Sinarmas World Academy (SWA) BSD, Tangerang, menilai sekolah internasional tersebut sewenang-wenang. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan didesak untuk bertindak tegas.

“Mendikbud harus tegas terhadap standar pendidikan dari sekolah-sekolah yang mengklaim sebagai sekolah internasional, tetapi dengan kualitas pendidikan dan guru tidak memadai. Kami minta Mendikbud menindak sekolah ini,” kata Christovita Wiloto, orangtua murid yang anak-anaknya bersekolah di SWA, Selasa (31/5/2016).

Christovita mengaku bahwa aksi protes orangtua murid terkait kinerja SWA memang sudah sering terjadi. Pada 2013 lalu, sempat terjadi demo besar yang memprotes sikap otoriter pihak pemilik sekolah yang memecat CEO Sinarmas World School, John McBryde. Padahal, para orangtua murid menilai McBryde merupakan kunci keberhasilan pendidikan di sekolah ini.

Setelah McBryde, gelombang pemecatan pun dilakukan terhadap para guru lain yang umumnya berasal dari Amerika, Eropa, dan Australia. Guru-guru itu dinilai memiliki kompetensi yang baik dan diyakini para orangtua murid sangat membantu murid-murid.

Christovita mengatakan, setelah McBryde dan para guru lain keluar hingga jumlahnya lebih dari 30 orang, para orangtua murid pun beramai-ramai mengeluarkan anak-anaknya dari SWA. Jumlahnya mencapai sekitar 200 murid.

“Selain karena sikap sewenang-wenang pihak sekolah terhadap guru asing, para guru ini dikeluarkan tanpa melihat kesulitan mereka untuk segera pulang ke negaranya masing-masing. Ini kan mencoreng reputasi pendidikan Indonesia di kalangan internasional,” ujarnya.

Setelah itu, lanjut Christovita, para guru tersebut digantikan oleh guru-guru yang dinilainya “asal comot” dan berkualifikasi jauh lebih rendah dari guru sebelumnya. Di sisi lain, biaya pendidikan pun terus dinaikkan.

Selain itu, sumber yang tidak ingin disebutkan namanya yang juga menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut, menduga bahwa banyak hal terkait keuangan SWA yang disembunyikan terutama dari pajak, bahkan guru guru asing yang baru dicomot atau guru yang sebelumnya dipecat diragukan melaporkan pajak dengan benar sehingga dia meminta Dirjen Pajak untuk memeriksa pajak SWA.(Rp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *