Validitas Data

Beberapa hari ini ada kehebohan mengenai beras. Bareskrim Polri menggrebek dan memasang police line di Pabrik dan gudang milik sebuah perusahaan produsen beras terkemuka di Bekasi. Perusahaan itu dituding menipu konsumen karena menjual beras medium menjadi seolah2 beras premium.

Saat konferensi pers soal penggrebekan ini menteri Pertanian dan Kapolri menyatakan bahwa tindakan perusahaan merugikan negara Rp 400 trilyun. Banyak pihak mengernyitkan dahi soal angka fantastis ini.

Pihak-pihak tsb meragukan validitas angka yang disebut oleh Kapolri dan Menteri Pertanian.

Berapa besar produksi pabrik itu sehingga bisa merugikan negara Rp 400 Trilyun ? Dengan asumsi keuntungan Rp 10.000 saja pabrik itu harus memproduksi 40 juta ton.

Produksi ini bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan konsumsi nasional.

Tulisan ini tidak membahas masalah hukum, tetapi masalah validitas data di negara ini.

Konferensi pers menteri pertanian dan Kapolri soal kerugian beras memantik keingin tahuan soal konsumsi dan produksi beras di Indonesia.

Data kementerian pertanian menyatakan bahwa tahun 2016 produksi gabah nasional mencapai 80 juta ton Gabah kering giling. Dari 100 kg gabah kering giling bisa dihasilkan 60 kg beras. Dengan demikian diatas kertas, produksi beras nasional tahun 2016 adalah 48 juta ton.

Bagaimana kebutuhan nasional ?

Menurut kesepakatan BPS dan kementerian pertanian konsumsi beras nasional per kapita adalah 114 kg. Artinya jika dikalikan dengan jumlah penduduk indonesia konsumsi beras nasional adalah 27 juta ton. Angka BPS sendiri awalnya menyebut konsumsi nasional 33 juta ton.

Jika data produksi dan data konsumsi benar maka seharusnya Indonesia tidak perlu impor beras umum (diluar beras khusus seperti basmati dsb) dari vietnam atau Thailand. Bahkan bisa ekspor beras.

Tetapi kenyataannya Indonesia masih impor beberapa tahun terakhir.
Meski tahun 2016 dinyatakan tidak impor beras, tetapi faktanya tahun 2016 Bulog masih mengimpor hampir 1 juta ton. Republik ini juga tidak mengekspor beras.

Mungkin bakal ada yg bilang surplus berasnya disimpan digudang.

Pertanyaannya berapa surplus berasnya?

48 juta – 27 juta itu ada 21 juta ton. Misalnya konsumsi beras nasional 33 juta ton seperti dilansir BPS, surplus beras mencapai sebesar 15 juta ton.

Pertanyaan berikutnya mungkinkah menyimpan beras sebanyak 15 juta ton di negeri ini ?

Adakah gudang yg mampu menampung beras sebanyak itu ?

Bulog saja yg memiliki gudang terbesar di Indonesia kapasitas gudangnya hanya 3,9 juta ton. Itupun rata2 hanya terisi 1,8 juta ton.

Data yg tidak masuk akal ini sebenarnya bukan hanya terjadi di tahun 2016. Di tahun 2015 saat BPS melansir produksi padi sebesar 74 juta GKG atau setara dengan 43 juta ton beras dan konsumsi 33 juta ton beras alias surplus 10 juta ton beras. Negeri ini bahkan harus mengimpor beras dari vietnam dan Thailand sebanyak 3 juta ton.

Sudah saatnya pihak2 yang berhubungan dengan pangan untuk jujur. Keputusan yang baik hanya bisa diambil saat pengambil keputusan mendapatkan data yang benar.

Masalah produksi padi itu terkait juga dengan subsidi pupuk. Apabila produksi padi dan luasan sawah yang ditanami padi tidak akurat, bisa berakibat subsidi pupuk juga tidak efektif dan berpotensi salah sasaran.

Apabila ada kekeliruan data, BPS perlu melakukan perbaikan agar ke depan data yang disampaikan kepada para pejabat pemerintah makin akurat sehingga bisa membantu pemerintah mengambil keputusan yang lebih baik.

 

By someOno
23072017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *