Bermasalah lagi, Lion Air Dipetisi Penumpang

Seorang penumpang pesawat Wings Air (anak perusahaan Lion Air) bernama Taufiq A dari Mataram, Nusa Tenggara Barat menyampaikan petisi  terkait manajemen Lion Air Group di laman www.change.org. Petisi yang mulai ditabalkan pada hari Kamis (9/6/2016) tersebut ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, Badan Perlindungan Konsumen dan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan.

Dalam petisinya, Taufiq menginginkan agar Pemerintah melakukan audit investigasi kepada Lion Air Grup, tidak terbatas hanya manajemen ground handling tetapi hingga manajemen perusahaannya. Hingga Jumat pagi sekitar pukul 08.00 WIB, atau hanya dalam waktu satu hari, petisi ini sudah mendapat dukungan 23.519 orang dari target 25.000 orang pendukung.

Dalam petisinya, Taufiq menceritakan pengalamannya naik pesawat Wings Air nomor penerbangan IW 1936 tanggal 8 Juni 2016 (Rabu) dari Rote Ndao menuju Kupang.

“Seperti biasa saya check in di koner Wings Air. Koper saya diminta untuk ditimbang, hasilnya 7,45 kg dan diminta masuk dalam bagasi. Awalnya saya menolak karena selama ini bisa masuk dalam bagasi kabin pesawat. Tapi akhirnya saya bersedia memasukkannya dalam bagasi karena beratnya lebih dari 7 kg,” ujar Taufiq.

Keanehan sudah terjadi ketika proses boarding berlangsung. Di mana Kopilot mengintruksikan pada awak groundhandling agar penumpang tidak naik sekaligus. Tapi per lima orang penumpang. “Saya juga mendengar bahwa jika tidak dilaksanakan pesawat bisa terguling,” lanjut Taufiq. Pesawat yang dipakai saat itu berjenis ATR 72-500.

Saat semua penumpang sudah di dalam pesawat, petugas groundhandling dengan pengeras suara meminta kerelaan tiga penumpang untuk tidak ikut terbang karena pesawat kelebihan beban.  Akhirnya ada tiga penumpang yang sukarela tidak ikut terbang. Namun anehnya, pramugari kemudian mengatakan pada tiga orang tersebut untuk duduk kembali karena pesawat sudah bersiap mengudara.

Pesawat pun terbang. Namun penumpang was-was karena takut kalau-kalau pesawat benar-benar kelebihan beban.

Ternyata untuk mengurangi beban pesawat, yang diturunkan bukan penumpang, tetapi seluruh bagasi penumpang yang tidak ditaruh di kabin. Hal itu baru diketahui ketika pesawat mendarat di Bandara El Tari, Kupang. Penumpang disuruh mengambil bagasi pada keesokan harinya (9/6) pukul 16.30 WITA di Bandara El Tari.

Tentu saja hal ini membuat para penumpang tidak terima. Karena ada beberapa penumpang yang sangat membutuhkan barang-barangnya. Seperti misalnya akan melanjutkan penerbangan ke tempat lain. Bahkan ada satu penumpang yang tasnya berisi obat penyakit gula (injeksi) yang ikut tertinggal. Menurut penumpang tersebut saat di Rote dia telah menjelaskan ke petugas check in bahwa tas ini berisi obat gula darah dia dan tidak perlu masuk bagasi. Tetapi petugas tetap memaksa agar tas masuk bagasi.

“Selain itu, sudah ada tiga penumpang yang tadi secara suka rela untuk tidak terbang. Dan penurunan bagasi para penumpang tidak dikonfirmasi ke kami,” lanjut Taufiq lagi.

Bahkan petugas Angkasa Pura 1 di Bandara El Tari juga heran dan curiga. Menurut mereka, tidak mungkin pesawat akan kelebihan beban jika hanya membawa barang-barang penumpang. Selain itu label bagasi tidak seperti label bagasi biasanya tapi menggunakan label bagasi LATE. Dan proses boarding yang tidak sepeti biasanya.

Karena semua hal  itulah Taufiq mengajukan petisi meminta Pemerintah melakukan audit investigasi kepada Lion Air Grup. Tidak terbatas hanya manajemen groundhandling tetapi hingga manajemen perusahaannya.

The post Bermasalah lagi, Lion Air Dipetisi Penumpang appeared first on Majalah Angkasa Online.

Majalah Angkasa Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *