Capt Rubijanto Adisarwono: Instruktur Terbang Harus Tangguh

instruktur terbang

Ia mengajar terbang sejak lulus sekolah pilot tahun 1975 sampai sekarang, dan punya dua lisensi pilot aktif untuk helikopter dan sayap tetap. “Kalau soal terbang, itu sudah hobi saya; hobi abis. Maniak saya. Semua orang sudah tahu,” katanya.

Presiden Direktur PT Trigana Air Service ini mulai merambah sekolah pilot. Bukan ikut-ikutan, kalau Capt Rubijanto Adisarwono kemudian membuka Genesa Flight Academy. Seperti diungkapkan Capt Imron Siregar, Direktur Operasi AirAsia Indonesia yang menjadi sahabat terbangnya, mereka pernah berbincang untuk membuat sekolah pilot enam tahun lalu.

“Tapi saya belum bisa gabung,” kata Imron, 16 Desember lalu pada wisuda Batch II Genesa di Jakarta. Ia, yang menyebut Rubi sebagai “orang yang punya banyak darah burung” ini, percaya kalau Rubi dapat menjadikan Genesa sekolah pilot berkualitas.

Imron tidak basi-basi karena Rubi memiliki pengalaman mengajar sebagai instruktur terbang yang panjang, sejak 1975 sampai sekarang. “Begitu saya lulus fixed wing, saya jadi instruktur. Sambil ngajar, saya ikut adik-adik yang belajar helikopter,” tuturnya. Pengalamannya sebagai praktisi penerbangan juga tak diragukan, termasuk pernah menangani proyek “Indonesianisasi pilot asing” pada 1980-an.

Baca Juga:

Kenali Nguyen Thanh Trung, Pilot Pembom Istana Presiden Vietnam

Kenapa Airbus Pilih Asia Tenggara Jadi Tempat Pelatihan Terbesar?

Sebelum acara wisuda itu, Angkasa berbincang pula dengan pilot yang sangat hobi terbang ini di kantornya di Kali Malang, Jakarta. Pada 11 Desember lalu, ia didampingi Tridjana Adi Sampurna, Sekretaris Perusahaan PT Trigana Air Service.

Bagaimana menjadikan sekolah pilot berkualitas?

Ada flying school yang pakai jet? Tak ada, kan. Paling pake pesawat Cessna C172 atau Piper Warrior. Di mana-mana, di seluruh dunia. Kalau Reni jadi bos airlines, gak mungkin tanyanya, gua mau milih student dari nolnya pake jet; gak ada. Ujung-ujungnya, gua ingin yang kualitasnya bagus. Untuk menjadikan sekolah itu kualitasnya bagus, apa dari pesawatnya? Bukan. Dari pengajarnya! Ini yang saya tekankan di Genesa.

Baca Juga:

Inilah Profil Mayor Pnb Marlon, Pilot yang Menerbangkan Hercules Nahas

Satu-Satunya Kepala Pilot Uji Wanita di Dunia Itu Ternyata Orang Indonesia

Pengajarnya harus tangguh dan jangan cari student di bawah level. Eh, tapi ini nomor tiga atau lima. Student ini tantangan bagi instruktur. Kalau ada murid jenius, wajar dapat nilai 9. Kalau yang biasanya dapat 5, di sini dapat 9? Karena itu, kualifikasi instruktur harus baik.

Siapa instruktur yang baik itu?

Mereka yang memiliki pengalaman dan keahlian mengajar; harus well experienced pilot. Di sini, lebih dari 50 persen experienced airlines dari Trigana dan other AOC (Air Operator Certificate). Jam terbangnya minimal 1.500 jam. Dari instruktur yang banyak memiliki pengalaman, banyak yang dapat ditransfer. Kesimpulannya, flying school itu sarananya sama, kurikulumnya beda dikit, tapi instrukturnya yang beda. Umumnya, 70-80 persen di flying school instrukturnya lulusan situ juga. Di sini, kita ambil instruktur yang senior. Mereka canggih.

The post Capt Rubijanto Adisarwono: Instruktur Terbang Harus Tangguh appeared first on Majalah Angkasa Online.

Majalah Angkasa Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *