Identifikasi Korban Kecelakaan dan Bencana Lebih Efisien dengan NIK

Enam orang korban kecelakaan pesawat AirAsia Indonesia QZ8501 pada 28 Desember 2014 teridentifikasi dari sidik jari yang dicocokkan dengan NIK (Nomor Induk Kependudukan). Jadi tidak perlu tes DNA, teridentifikasi lebih cepat dan lebih efisien.

Demikian pentingnya NIK, Data Kependudukan, dan KTP Elektronik itu, sehingga Badan SAR Nasional (Basarnas) bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri memanfaatkan data tersebut. Nota Kesepahaman antara Basarnas dengan Kemendagri dilaksanakan tadi siang (28/6) di Jakarta.

Menurut Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Zudan Arif Fakrulloh, pihaknya sudah bekerjasama dengan 82 institusi/lembaga pemerintah dan swasta dalam pemanfaatan data kependudukan tersebut. “Ini yang ke-83,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa sampai saat ini sudah sekitar 85 persen dari 183juta penduduk Indonesia memiliki NIK.

“Kerjasama ini sudah lama ditunggu-tunggu karena yang dibutuhkan Basarnas juga menjawab pertanyaan keluarga korban, selain kecepatan dalam bertindak menyelamatkan dan menolong korban,” ungkap Marsdya TNI FHB Sulistyo, Kepala Basarnas. Basarnas pun, katanya, akan segera menjalankan amanah dari kerjasama tersebut.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menegaskan, pemanfaatan data kependudukan itu sangat bermanfaat untuk kepentingan masyarakat, khususnya yang tertimpa bencana atau musibah dan kecelakaan, agar dapat segera diketahui identitasnya. Dari data kependudukan yang sudah terekam itu juga bisa diketahui dan dipetakan daerah-daerah rawan bencana, informasi penduduk, serta karakteristik wilayahnya.

“Pemerintah harus cepat hadir melayani masyarakat. Dengan adanya nota kesepahaman ini, data yang sudah dimiliki Basarnas jadi lebih lengkap,” ucap Tjahjo.

The post Identifikasi Korban Kecelakaan dan Bencana Lebih Efisien dengan NIK appeared first on Majalah Angkasa Online.

Majalah Angkasa Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *