Pertanggungan Asuransi Penumpang Pesawat Udara ke Luar Negeri Lebih dari Rp2Miliar

asuransi penumpang

Konvensi Montreal 1999 (MC 99) yang sudah diratifikasi Indonesia pada 21 November 2016 memberi dampak positif bagi penumpang penerbangan internasional. Setidaknya ada jaminan yang cukup signifikan dalam besaran pertanggungan asuransi maksimal jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam suatu penerbangan internasional.

Sebut saja untuk kecelakaan yang menimbulkan kerusakan fisik (body injured), bahkan mati, besaran santunan asuransinya jadi lebih besar.

Menurut Kepala Seksi Tarif Jasa Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara, Melliana Nur, dalam Konvensi Montreal 1999,  santunan asuransi kematian bagi penumpang pesawat udara internasional besarannya 152.550 dolar AS (sekitar Rp2,029miliar). Bandingkan dengan Konvensi Warsawa 1929 yang besarannya hanya 21.250 dolar AS atau setara Rp282.625.000,-.

Bagaimana dengan PM 77 Tahun 2011? “Peraturan ini aturannya lebih spesifik,” kata Melliana dalam acara “Sosialisasi Tindak Lanjut Ratifikasi Konvensi Montreal 1999 dan implementasinya” di Balikpapan hari ini (22/2/2017).

Dalam peraturan Menteri Perhubungan itu, kata Melliana, penumpang yang mati karena kecelakaan dalam penerbangan, santunan asuransinya Rp1,25miliar dan cacat total Rp500juta. Bahkan body injured lainnya ada angkanya, seperti kehilangan pendengaran dan satu mata masing-masing Rp150juta. Kehilangan jari lebih spesifik lagi, seperti kehilangan ibu jari tangan kanan Rp125juta dan satu ruas jarinya Rp62,5juta. Peraturan ini berlaku untuk penerbangan domestik.

MC 99 juga melindungi penumpang jika penerbangannya tertunda (delayed) atau dibatalkan (canceled). Begitu juga kehilangan bagasi dan kargo.

Apakah ini memberatkan operator penerbangan? “Tidak karena konvensi ini juga memuat pasal untuk perlindungan bagi perusahaan penerbangan, salah satunya dalam pembatasan gugatan penumpang di pengadilan,” jawab Adhy Riadhy Arafah, Direktur Pusat Kajian Hukum Universitas Airlangga.

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan Senior Manager Litigation & Regulatory Garuda Indonesia, Anwar Musni. Kata dia, MC 99 memberi unifikasi dan kepastian hukum  serta menyederhanakan penanganan klaim dan proses litigasi.

Walaupun demikian, Anwar menyebut ada juga kerugiannya, terkait yurisdiksi kelima. “Akan ada benturan dengan Hukum Nasional Indonesia terkait masalah pertentangan kompetensi relatif di pengadilan Indonesia yang jumlahnya ribuan,” ucapnya.

Di samping itu, operator akan mengeluarkan tambahan biaya untuk membayar premi asuransi karena ada kenaikan nilai pertanggungan.

The post Pertanggungan Asuransi Penumpang Pesawat Udara ke Luar Negeri Lebih dari Rp2Miliar appeared first on Majalah Angkasa Online.

Majalah Angkasa Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *