Cara Donald Trump Menang Pemilu Pakai Data Facebook

VIVA – Facebook kembali membuat heboh dunia setelah terbukti membocorkan data 50 juta penggunanya untuk memenangkan Donald Trump dalam pemilu presiden AS. 

Dalam pemberitaan di laman Hackernoon, sang penulis, Trent Lapinski menyebut, jika ternyata ada ancaman lebih buruk lagi ketimbang AI yang bisa mengambil alih planet bumi. Ancaman itu adalah Facebook yang membiarkan tim Trump menggunakan AI untuk memenangkan pemilu 2016 lalu. Artinya, penggabungan Facebook dan AI bisa menjadi ancaman besar di dunia ini.

Isu Cambridge Analytic (CA) menggunakan 50 juta data warga untuk memenangkan Donald Trump di Pemilu 2016 sejatinya telah bergulir sejak tahun lalu. Fakta terbaru menyebut jika CA mendapatkan data itu dari Facebook. Sebagian kecil data didapat dengan membayar, sebagian lagi diberikan secara cuma-cuma. Demikian dilansir Hackernoon. 

Presiden AS Donald Trump di WEF Davos, Swiss.

Namun data itu tidaklah akan berguna jika tidak diolah dengan baik, sehingga dibutuhkan software analisa untuk mengolah menjadi data yang dibutuhkan.

Diberitakan RadioAustralia.net.au, CA pun menggunakan AI untuk menganalisa puluhan juta profil pengguna Facebook dan berhasil mendapatkan profil psikologi mereka. 

Hal ini diungkap oleh pejabat CA kepada seorang wartawan yang menyamar. Pernyataan dari pejabat CA, Alexander Nix itu disiarkan langsung oleh kantor berita Channel 4. 

“Kami yang melakukan semua riset, semua data dan analisanya, semua ditargetkan. Kami juga melakukan semua kampanye digital, kampanye di televisi. Strategi itu kami dapatkan dari informasi yang telah kami olah,” ujar Nix, yang sekarang sudah dipecat dari CA.

Tidak selesai sampai di situ. Mereka kemudian menggunakan sistem iklan Facebook untuk menampilkan iklan dan konten kepada sebagian besar pengguna Facebook, tentunya yang berlokasi di AS. Dari sinilah mereka mendapatkan data dan profil psikologi pengguna Facebook. 

Facebook.

Cara itu digunakan CA untuk mencari mana warga AS yang mendukung Trump dan mana yang tidak, lalu didapati juga yang masih ragu-ragu. Kemudian iklan dan konten yang berhubungan dengan ‘kelebihan’ Trump akan di ekspos ke akun pengguna yang tidak mau atau masih ragu-ragu memilih Trump.

“Mereka berpikir tentang fakta bahwa Donald Trump kehilangan 3 juta suara tapi tetap memenangkan pemilu, itu bergantung pada data dan penelitian. Kami melakukan kampanye di lokasi yang tepat, membuat keputusan memilih para swing-voters berpindah dan mengubah pemikiran pada haters Trump menjadi pendukungnya saat hari pemilihan berlangsung. Begitulah cara kami memenangkan pemilihan,” jelas Chief Data Officer Cambridge Analytic, Alex Tayler.

Yang menarik Nix juga mengungkapkan kepada wartawan yang menyamar itu bahwa perusahaannya menggunakan sistem email yang bisa hancur atau hilang dalam kurun waktu tertentu setelah dibaca.

“Tidak ada yang tahu jika kami memilikinya. Kami menggunakan email ProtonMail yang bisa menghancurkan email dalam kurun beberapa jam setelah dibaca. Setelah dikirim, lalu dibaca, dua jam kemudian email itu akan menghilang. Tidak akan ada bukti, tidak ada dokumen di persidangan,” ujar Nix.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *