Jimly Asshiddiqie cerita pengalamannya kepada JK usai jadi pengamat Pemilu Rusia

Merdeka.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menerima Mantan Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu RI Periode 2012-2017 Jimly Asshiddiqie. Dalam pertemuannya Jimly menyampaikan pengamatannya usai jadi pengamat pada pemilihan umum Presiden Rusia yang berlangsung tanggal 18 Maret.

BERITA TERKAIT

Dia menjelaskan konstitusi di Rusia berbeda dengan Indonesia. “Saya sampaikan pengamatan saya ke Bapak Wapres bahwa konstitusi Rusia beda sama kita,” kata Jimly di kantor Wapres, Jalan Merdeka Selatan, Kamis (29/3).

Jimly menjelaskan kepada JK, di Rusia Presiden yang menjabat selama dua periode berturut-turut bisa mencalonkan lagi. Berbeda dengan Indonesia pada UUD 1945 pasal 7 menjelaskan bahwa presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan.

“Di sana hanya menyebut Presiden menjabat dua periode berturut-turut tapi tidak ada pembatasan sesudahnya bisa nyalon lagi apa enggak,” jelas Jimly.

Jimly mencontohkan Vladimir Putin yang sudah menjabat empat kali. Dua periode pertama sudah selama delapan tahun jadi presiden, kemudian jadi perdana menteri. Kemudian, jadi presiden kembali untuk ketiga kalinya dan sekarang kembali jadi Presiden.

“Ini kecenderungan penting untuk kita perhatikan. Karena di China ini juga ditiru. Beberapa minggu lalu, kata Jimly, Presiden Xi Jinping melakukan perubahan konstitusi yang memungkinkan jadi presiden seumur hidup. Ini kecenderungan yang menarik,” kata Jimly.

Tidak hanya itu, dia juga membahas di Rusia lebih banyak calon presiden Independen yang mendaftar pada saat itu. Kata Jimly ada
70 calon presiden yang mencalonkan, yaitu 46 dari independen dan 24 dari parpol. Namun sesudah diperiksa KPU, ada 8 yang lolos yakni enam partai dan dua independen.

“Kelebihan Rusia membolehkan ada calon independen. Tidak tergantung parpol. Ini menarik sebagai perbandingan kesulitan yang dihadapi bangsa Indonesia. Ini yang kami diskusikan, dan Bapak Wapres sangat antusias menanggapi, jadi pelajaran menarik,” ujarnya.

Delegasi Indonesia terdiri dari Sekretaris Jenderal Komisi Pemilihan Umum Arif Rahman Hakim, Komisioner KPU Wahyu Setiawan, dan Jimly Asshidiqie menjadi pengamat pada Pemilihan Umum Rusia yang berlangsung tanggal 18 Maret.

Anggota KPU Rusia, Vasily Likhachev menyampaikan apresiasi atas kehadiran Indonesia sebagai pemantau pada Pemilihan Presiden 2018 saat bertemu dengan delegasi KPU Indonesia di Kantor KPU Rusia, demikian Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Enjay Diana kepada Antara di London, Senin.

Vasily Likhachev yang pernah berkunjung ke Indonesia mengharapkan adanya pengembangan kerja sama dengan Indonesia, seperti adanya suatu perjanjian kerja sama antara KPU Rusia dengan KPU Indonesia.

Indonesia ikut serta sebagai pengamat bersama lebih dari 1500 orang pengamat lainnya dari 149 negara yang diundang pihak Rusia. Selain mendapat penjelasan tentang proses pilpres dari KPU Rusia, pengamat juga meninjau langsung proses pemungutan suara di sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS). Delegasi Indonesia bersama delegasi dari negara lain meninjau TPS di Kolomna, sekitar 105 kilometer tenggara Moskow.

[frh]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *