Kawal Pelanggaran Pemilu

Sumber
SUKSESKAN PILKADA DAN PEMILU: Para peserta Goes to School di SMAN 1 Palembang dan Ketua KPU Provinsi Sumatera Selatan semakin menyadari pentingnya suara dan partisipasi mereka di pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Foto: Ryan Zetizen/Sumatera Ekspres

Roadshow KPU Goes to School kembali berlangsung kemarin (16/4). Bertempat di aula SMA Negeri 1 Palembang, roadshow kali ini merupakan titik ketiga setelah roadshow dilaksanakan di SMKN 5 Palembang dan SMAN 17 Palembang beberapa waktu lalu. Yang istimewa dalam acara kali ini ialah kehadiran H. Aspahani, S.E Ak, MM CA, Ketua KPU Provinsi Sumatera Selatan yang juga merupakan alumnus SMA Negeri 1 Palembang.
Dalam sambutannya, Kepala SMA Negeri 1 Palembang menyambut baik penyelenggaraan acara ini. Ia berharap anak didiknya dan juga para pelajar yang hadir dalam acara ini dapat berkontribusi dalam pelaksanaan pemilu dan pilkada. “Bagi yang pemilih pemula atau yang sekarang belum bisa memiliki hak suara, agar kiranya dapat menerima penjelasan yang disampaikan terkait pilkada dan pemilu ini sehingga, anak-anak bisa menggunakan hak pilihnya secara cerdas dan juga bagi yang belum memilih dapat memberikan pandangan kepada orang-orang di sekitarnya untuk jangan asal memilih.” Tutur Nasrul Bani, S.Pd MM.
Ratusan siswa dari beberapa sekolah di sekitar SMAN 1 Palembang hadir sebagai audiens. Mereka menyimak dengan seksama materi terkait Pilkada 2018 Berintergrasi di Sumatera Selatan. Usai H. Aspahani, S.E Ak, MM CA, menyampaikan materinya, sesi tanya jawab pun berlangsung dan diskusi menarik pun terjadi. Dimulai dari pertanyaan dari Muhammad Ihsan, siswa SMA Negeri 1 Palembang terkait pelanggaran-pelanggaran apa saja yang sering terjadi pada saat pemilu dan bagaimana cara masyarakat untuk menanggapi pelanggaran tersebut. Menanggapi pertanyaan ini, H. Aspahani, S.E Ak, MM CA menjelaskan setidaknya 4 pelanggaran utama yang sering terjadi saat pemilu. “Yang pertama adalah perilaku mempengaruhi orang untuk memilih paslon tertentu dengan iming-iming imbalan, kedua adanya pihak yang mengubah hasil pemilihan, ketiga adanya intimidasi untuk memilih paslon tertentu dan yang terakhir adalah black campaign, terutama yang paling marak saat ini adalah melalui sosial media.” Ujar Aspahani.
Untuk memproses pelanggaran tersebut, tentu masyarakat bisa ikut andil. “Caranya ialah dengan melaporkan pelanggaran yang kita lihat ke Bawaslu. Laporan pun harus lengkap terkaut siapa yang melakukan, apa yang dilakukan, kapan dan sertakan bukti atau saksi yang mendukung.” Sambungnya. Tidak hanya pertanyaan dari Muhammad Ihsan, pertanyaan dari M. Naufal Hibatullah yang berasal dari SMA Negeri 1 juga menarik perhatian. Naufal menanyakan terkait ketentuan yang berlaku terkait penentuan pengganti bagi salah satu paslon yang anggotanya meninggal dunia sebelum atau saat pemilihan umum digelar. Dalam kesempatan ini Aspahani menjelaskan bahwa paslon tetap yang salah satu anggotanya meninggal dunia/berhalangan melanjutkan proses , apabila terpilih di pemilu sebagai pemenang, maka orang yang meninggal/berhalangan tersebut dapat diganti dengan orang lain berdasarkan kesepakatan DPR.
Usai mendapatkan banyak ilmu terkait pilkada dan pemilu, kemampuan para peserta dalam acara ini diuji dalam kuis Siapa Pintar. Akhirnya diantara 60 peserta, terpilihlah 3 siswi dari SMAN 10 Palembang Putri Lestari, Ayu Khoirunnisa, dan Naila Ardelia serta Farah Aldin Humairah dari SMAN 1 Palembang yang menjadi juara. “Kuis ini seru banget, sebenernya deg-degan selama main tadi dan makin nggak nyangka akhirnya bisa menang” ucap Farah usai menerima hadiah. KPU Goes to School masih akan terus berlanjut, masih ada 7 titik SMA di Sumatera Selatan yang akan dikunjungi selanjutnya. Sampai jumpa! (hnr)

Berita Lainnya!

Inginkan Pemilu Online

KPU Goes To School: SMKN 5 Palembang

Politik itu Berat, Gaklah Guys

Romantis VS Humoris, Pilih Yang Mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *