Lolos Jadi Peserta Pemilu 2019, Begini Peluang PBB

Sumber

Jakarta

Kemenangan Partai Bulan Bintang (PBB) merebut tiket peserta pemilu 2019 melalui sidang ajudikasi tak dapat dirayakan berlama-lama. Pengalaman menunjukkan partai ini kesusahan menembus ambang batas parlemen dalam dua periode terakhir.

PBB tercatat selalu gemilang menembus syarat peserta pemilu, 1999, 2004, 2009, dan 2014. Tapi data perolehan suaranya menunjukkan tren yang menurun sehingga gagal menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold/ PT).

Data pemberitaan detik.com pada 2009, PBB hanya meraih 1,8 juta suara atau 1,79 persen. Pada pemilu 2014-pun meraup 1,8 juta atau 1,46 persen. Bagaimana dengan peluang pada Pemilu 2019?

Meski kemarin dinyatakan menang oleh Bawaslu dan berhak menjadi peserta, tapi hasil survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), 7-13 Desember 2017, hasilnya tak menggembirakan. Sebanyak 1.220 responden yang diambil dengan metode multistage random sampling, PBB hanya akan meraup 0,1 persen.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli menyebutkan kedigdayaan PBB yang mewarisi Partai Masyumi tak gemerlap seperti dahulu kala. Hilangnya kedigdayaan ini karena dua sebab, yakni perpecahan internal dan hilangnya ideologi massa.

“Dari faktor internal dulu ada perpecahan di kalangan Masyumi. Dan sebagian kader Masyumi beralih ke PPP sebagai fusi parpol Islam semasa Orde Baru, atau pindah ke PKS,” jelas Lili kepada detik.com, Senin (5/3/2018).

M. Arskal Salim GP dalam buku Mengapa Partai Islam Kalah?: Perjalanan Politik Islam dari Pra-Pemilu 1999 Sampai Pemilihan Presiden menyebutkan, pewaris Masyumi pasca reformasi mengalami segmentasi. Mereka terbagi dalam tiga parpol, yakni PBB yang diketaui Yusril Ihza Mahendra, Partai Politik Islam Masyumi (PPIM) yang diketuai oleh Abdullah Hehamahua, dan Partai Masyumi Baru (PMB) yang diketuai Ridwan Saidi.

Perpecahan inilah yang membuat suara massa tidak terkonsentrasi. Selanjutnya seleksi alam simpatisan Masyumi juga tergoda oleh berbagai parpol Islam yang lain dengan ideologi yang hampir sama. Bahkan mereka harus berbagi lambang bulan bintang.

Lili menyebutkan ideologi PBB di basis massa-pun merosot. Visi PBB dianggap kurang mengakar sehingga banyak kader maupun pemilih tak jarang beralih ke parpol nasionalis.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adji Alfarabie mengungkap pengelolaan PBB selama ini tidak semenarik parpol berbasis Islam yang berhasil masuk ke DPR. Struktur PBB kurang solid, calon anggota legislatifnya kurang populer, dan cenderung sentralistis.

“PBB ini masih mengandalkan ketua umum-nya, Yusril Ihza Mahendra, sebagai figur sentral. Ini kurang kuat, apalagi posisinya sekarang adalah pengamat hukum dan pengacara,” jelasnya.

Ia mengakui Yusril merupakan sosok yang cerdas dan sangat terkenal pasca reformasi 1999. Kecerdasan dan kepiawaiannya di bidang hukum diperlihatkan dalam sejumlah persidangan kasus yang ditanganinya. Begitu pun dalam persidangan ajudikasi di Bawaslu, akhirnya bukti-bukti dan argumentasi yang diajukan membuat PBB dimenangkan melawan KPU.

(ayo/jat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *