Majelis Etik Ditantang Jadi Lokomotif Perubahan Partai Menuju Golkar Bersih

Sumber

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Mengangkat citra Partai Golkar untuk bertarung di Pemilu 2019 bukanlah hal mudah.

Stigma sebagai penerus Orde Baru dan partai juara korupsi membuat elektibilitas Partai Golkar memiliki kecenderungan menurun jika dilihat dari tiga pemilu terakhir dari perolehan kursi di DPR RI.

Ditambah juga, Capres yang didukung oleh Partai Golkar pun tak pernah menang.

Hal ini menambah citra negatif PG sebagai penumpang gelap, karena memiliki tabiat politik berbalik mendukung pemenang di tengah jalan.

“Keputusan Munaslub untuk kemudian mengangkat jargon Golkar Bersih menjadi keputusan Partai bisa dipandang sebagai langkah cerdas dan taktis,” kata Bandot DM analis di LSM yang bergerak pemantauan korupsi dalam keterangan yang diterima, Kamis (14/6/2018)

Menurutnya, Ketua Umum terpilih Airlangga Hartarto memiliki peluang untuk melakukan rebound dengan membuat citra Partai Golkar pasca Munaslub 2017 adalah partai yang berbeda dari Golkar sebelumnya.

Bagi parpol peserta Pemilu 2019, isu korupsi akan menjadi isu strategis yang mesti diantisipasi jika ingin mendulang suara.

“Ini salah satunya karena aksesibilitas informasi publik semakin terbuka dan publik semakin jengah dengan aksi korupsi oleh kader parpol,” katanya.

Menurutnya, pemilih akan melihat partai yang mampu mencitrakan diri sebagai partai bersih dan mampu mengendalikan kadernya agar tidak melakukan korupsi akan menjadi prioritas.

Persoalannya, publik era disruptif informasi ini, tak mudah dibohongi dengan jargon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *