Mesir Gelar Pilpres, El-Sisi Bakal Menang Mudah

Dream – Hari ini waktu setempat, Mesir menggelar pemilihan umum presiden, menyusul berakhirnya kekuasaan Abdul Fatah Al Sisi. Sayangnya, pesta demokrasi ini tidak disambut meriah oleh rakyat Mesir.

Sebanyak 60 juta rakyat Mesir akan memilih calon incumbent atau Pemimpin Partai El Ghad, Mousa Mostafa Mousa. Sejatinya, Mousa sendiri merupakan salah satu pendukung fanatik Sisi.

Muncul kekhawatiran akan adanya sikap apatis dari sebagian besar rakyat Mesir lantaran dua kandidat yang bertarung sebenarnya berada di pihak yang sama. Ditambah, sejumlah warga menyaksikan sendiri pelanggaran sebelum pelaksanaan pemilu.

Ada praktik pembelian suara. Sementara di distrik lain, pemilik toko dipaksa memasang spanduk dukungan kepada Sisi dan semua orang diminta menyembunyikan identitasnya dengan alasan keamanan.

Kekhawatiran tidak adanya pemilih juga dirasakan oleh pendukung Sisi, Nermin Nazim. Pria yang berprofesi sebagai pembaca berita ini telah berusaha keras menggalang dukungan bagi Sisi.

” Akan ada yang mendukungnya tapi mereka tidak mau repot-repot datang untuk memberikan suara,” kata Nazim, dikutip dari The Guardian, Senin, 26 Maret 2018.

” Bagaimana dia bisa menang jika tidak ada yang datang (memberikan suara)? Dia tidak bisa menang dengan suara kecil dari mayoritas,” kata dia melanjutkan.

Komisi pemilihan Mesir berupaya mengajak seluruh rakyat Mesir berpartisipasi dalam pemilihan presiden. Badan ini menyebarkan banyak iklan ajakan memilih yang disiarkan televisi dan radio. Mufti Agung Mesir pun sampai turun tangan mengajak orang Mesir memilih.

Penduduk kawasan tetangga Giza, Haram, mengatakan ada keluarga kaya mendatangi warga desa dan memberikan 100 pound Mesir, setara Rp79 ribu, agar mereka berpartisipasi pada pemilihan umum. ” Mereka butuh dan senang menerimanya,” kata wanita itu, yang tidak disebutkan namanya.

Sedangkan seorang penduduk kawasan Ain Shams, mengatakan beberapa pemilik toko yang menjual barang-barang subsidi pemerintah menawarkan tambahan belanja gratis. Syaratnya, penduduk harus menunjukkan jarinya yang dibubuhi tinta merah muda sebagai bukti telah menyalurkan suara.

” Saya sedang duduk di kafe dan melihat orang yang bertanggung jawab mendistribusikan barang subsidi berkata kepada kami dan seluruh keluarga agar memberikan hak suara,” kata dia, yang enggan disebut namanya.

” Dia berkata jika kami kembali dengan jari yang dibubuhi tinta merah muda, kami akan mendapat sekotak ransum dan tambahan poin untuk belanja bulan depan,” lanjut dia.

Apatisme rakyat Mesir terasa semakin menguat usai pernyataan Mousa. Dia sempat mengatakan di ajang ini, Mousa tidaklah sedang menantang Sisi.

Nama Mousa masuk dalam daftar kandidat presiden di detik-detik terakhir. Ini setelah lima figur potensial penantang Sisi diblok oleh otoritas.

Meski otoritas berwenang berupaya keras mengajak rakyat Mesir memilih, banyak yang merasa datang ke TPS hanya buang-buang waktu. ” Pemilu telah kehilangan alasan yang mendasar,” kata Samia dari Assiut.

Dia mengaku memilih Sisi pada 2014 lalu karena yakin calon yang didukungnya adalah sosok yang loyal pada orang-orang tidak mampu. ” Nyatanya dia tetap memihak para orang kaya,” ucap dia.

Hal serupa diungkapkan oleh Markos. Pria yang berasal dari komunitas Kristen Koptik, yang dulunya pendukung Sisi, menyatakan tidak akan memberikan suaranya pada pemilu kali ini.

” Rezim telah mengambil orang begitu saja. Ini lebih tepat disebut referendum ketimbang pemilu. Ini lebih rasional,” kata Markos.

(Sah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *