Musim Pemilu, Elit Agama dan Politisi Berkontribusi Kobarkan Sentimen Kebencian

Jakarta, NU Online
Aktivis Gusdurian Savic Ali mengatakan bahwa sentimen kebencian di masyarakat kerap kali dikobarkan oleh elit politik dan elit agama tertentu untuk mencapai kepentingan mereka. Sentimen kebencian ini  yang sering kali menyebabkan memenuhi ruang-ruang media sosial.

Demikian disampaikan Savic Ali pada diskusi bertema Apatisme Bukan Pilihan: Kalau Bukan Lo, Siapa Lagi? di Aula Leo Soekoto Jalan Suryo Nomor 62, Jakarta Selatan, Sabtu (24/3) sore.

“Sentimen dalam kehidupan sosial itu wajar. Tetapi ketika sentimen ini diglorifikasi oleh elit politik, elit sosial, dan elit pemuka agama,” kata Savic Ali.

Menurutnya, elit-elit politik seharusnya mendorong kehdiupan sosial yang harmonis. Mereka boleh mencari dukungan publik dengan cara-cara simpatik, bukan dengan cara menyebarkan konten-konten kebencian yang diarahkan kepada rival-rival politik di media sosial.

“Minoritas terdampak benar oleh pilkada Jakarta. Bahkan orang yang tidak terlibat juga terdampak. Bagaimana bisa anak kecil berkata kepada tetangganya, ‘om, om Kristen ya? Om masuk neraka.’ Dari mana anak kecil itu punya kalimat dan pikiran seperti itu?” kata Savic.

Direktur NU Online ini menambahkan, ketegangan terkait toleransi beragama, isu SARA, dan sentimen kebencian lainnya di media sosial mesti diturunkan. Kalau mau meredakan ketegangan di media sosial, elit politik yang kemarin terlibat dalam konteks Pilakda DKI Jakarta kemarin harus mendatangi semua kelompok.

“Mereka harus berani berkata kepada kelompok pendukungnya bahwa saya tidak bisa mengikuti semua kehendak saudara,” kata Savic.

Di samping itu, peran pemuka agama juga dibutuhkan untuk memberikan keteladanan bagi umat.

“Berikutnya pemuka agama memainkan peran penting. Semalam NU dan Muhammadiyah bertemu. Ini penting. Ini penting untuk menunjukkan kepada umat masing-masing bahwa selama ini memang tidak ada rivalitas,” kata Savic.

Ia menceritakan bahwa sejak Gus Dur wafat pertemuan tokoh lintas agama semakin kurang. Peretemuan tokoh lintas agama harus diintensifkan.

Diskusi ini menghadirkan narasumber Direktur NU Online Savic Ali, pengamat politik Ansy Lema, dan mahasiswi Michelle. (Alhafiz K)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *