Partai Movimento 5 Stelle Menang di Pemilu Italia Berkat Internet

Pada usia 26, Luigi Di Maio sudah menjadi wakil ketua parlemen Italia. Menginjak 31 tahun, ia menjadi calon perdana menteri terkuat Italia. Bagaimana Di Maio melakukannya?

tirto.id – Usianya baru 31 tahun. Kuliahnya tak selesai. Untuk mencari tambahan uang, ia pernah menjadi pengantar tamu VIP di stadion San Paolo, kandang klub sepakbola SCC Napoli. Kini ia menjadi salah satu calon perdana menteri Italia terkuat, juga yang termuda. Partai yang dipimpinnya, Movimento 5 Stelle atau Gerakan Lima Bintang (M5S), meraih 32,22 persen suara, terbanyak dari semua partai pada pemilihan umum 4 Maret lalu.

Namanya Luigi Di Maio. Menurut Financial Times, Di Maio berasal dari keluarga Katolik kelas menengah. Ibunya seorang pengajar bahasa Latin. Ayahnya memiliki perusahaan kecil konstruksi, selain aktif dalam Gerakan Sosial Italia, turunan partai berhaluan fasis pasca-PD II. Ia besar di pinggiran Napoli.

Sejak di sekolah, Di Maio sering aktif dalam organisasi. Sewaktu di sekolah dasar, misalnya, ia pernah menjadi bendahara. Pada waktu SMA ia menjadi ketua OSIS. Komputer dan balapan Fomula 1 adalah kegemarannya.

Baca juga:

Karier politik Di Maio bermula pada 2010. Ketika itu ia mencalonkan diri menjadi pejabat kota. Namun, percobaan pertamanya gagal. Ia baru berhasil di pemilihan umum berikutnya pada 2013. Memperoleh 189 suara cukup untuk membawanya duduk di kursi parlemen.

Semenjak itu karier politiknya melejit. Baru satu bulan menjabat, ia terpilih sebagai wakil ketua parlemen Italia, sebelum akhirnya diset menjadi kandidat perdana menteri pada September 2017.

Bagaimana Di Maio melakukannya? Semua itu dimungkinkan karena M5S bukan partai biasa.

Partai Politik Berbasis Internet

M5S didirikan pada 2009 oleh Beppe Grillo, seorang komedian, dan Gianroberto Casaleggio, pemilik perusahaan konsultan internet. Berawal dari sebuah gerakan anti-korupsi, merujuk Bloomberg, dalam perkembangannya M5S berubah menjadi partai politik. Angka lima yang ada dalam nama M5S mengacu pada lima isu yang menjadi fokus perhatiannya, yaitu akses air bagi publik, transportasi dan pembangunan yang berkelanjutan, hak akses internet, dan enviromentalisme.

Berbeda dengan partai-partai politik umumnya yang menggunakan mekanisme demokrasi representatif, M5S mendasarkan pada prinsip demokrasi langsung yang dimungkinkan oleh internet. Hal ini, misalnya, terlihat dalam memilih kandidatnya untuk dimajukan dalam pemilihan umum, M5S tidak menggunakan mekanisme yang umumnya dilakukan partai politik biasa, seperti pilihan sepihak petinggi partai, mahar politik, atau transaksi di bawah meja, melainkan lewat voting online yang dilakukan para anggotanya.

Mekanisme inilah yang membuat Di Maio yang relatif tak dikenal bisa mencalonkan diri menjadi kandidat anggota parlemen pada 2013. Setiap anggota M5S bisa mengunggah pencalonannya secara online. Lewat voting online pula para anggota M5S-lah yang menentukan kebijakan apa yang harus diambil seandainya M5S memegang kekuasaan.

“Pengalaman kami adalah bukti bagaimana internet telah membuat partai-partai mapan dan model organisasi politik demokrasi sebelumnya menjadi usang dan boros,” tulis Davide Casaleggio, salah satu petinggi M5S sekaligus putra sang pendiri, di Washington Post.

Casaleggio mengklaim bahwa M5S, yang mengumpulkan 11 juta suara pada pemilihan Maret lalu, hanya menghabiskan biaya—yang seluruhnya berasal dari donasi masyarakat biasa—kampanye sebesar 1 juta dolar AS. Jika dirata-ratakan, tiap suara hanya menghabiskan biaya sekitar 9 sen.

“Bagi partai-partai tradisional, menurut koalisi partai politik More Europe, satu suara menghabiskan biaya hampir seratus kali lebih banyak, sekitar 8,50 dolar per suara,” tambah Casaleggio.

Ia menerangkan yang memungkinkan keberhasilan M5S adalah platform atau aplikasi online yang disebut Rousseau. Pemilihan nama filsuf Abad Pencerahan asal Perancis itu menurutnya karena Rousseau berpendapat bahwa politik selayaknya merefleksikan kehendak umum rakyat.

“Dan itulah tepatnya yang dilakukan aplikasi kami: membuat masyarakat menjadi bagian nyata dari proses politik. Demokrasi langsung, dimungkinkan oleh kehadiran internet, telah mendudukkan masyarakat di posisi sentral dan yang akhirnya akan berujung pada dekonstruksi organisasi sosial dan politik sekarang. Demokrasi representatif (politic by proxy) perlahan-lahan kehilangan maknanya,” tandasnya.

Lain Kata, Lain Fakta

Kendati demikian M5S diprediksi tidak terlalu berbeda dengan partai-partai tradisional lainnya. Dua minggu menjelang pemilu, misalnya, M5S terkena skandal korupsi. Padahal pemberantasan korupsi selama ini merupakan misi utama partai.

Seperti dilansir Telegraph, M5S yang memandang gaji politikus parlemen digaji terlalu tinggi, mewajibkan setengah dari gaji para anggotanya yang duduk di parlemen untuk disisihkan untuk membantu usaha kecil dan menengah. Namun, pada 13 Februari lalu, beberapa dari mereka kedapatan tak menyetorkan kewajibannya itu. Mereka hanya membuat struk bank yang menunjukkan uang donasi itu sudah meninggalkan rekening mereka untuk ditunjukkan sebagai bukti. Setelah itu mereka membatalkan transfer tersebut.

Partai yang bertumpu pada program-program populis ini, sejak awal mencitrakan dirinya sebagai gerakan anti-kemapanan yang menolak berkoalisi dengan partai lainnya, praktik yang lumrah dalam sistem multi partai di Italia. Namun, ketika pada pemilu lalu M5S tak meraih batas suara 40 persen yang disyaratkan agar bisa langsung membentuk pemerintahan sendiri, prinsip non-koalisi yang selama ini didengungkannya mulai sedikit luntur.

Menurut The Local, Di Maio telah meminta partai rivalnya untuk mengajukan proposal yang memungkinkan pemerintahan bisa dibentuk, kendati menambahkan dirinya tidak akan mengubah tim kementerian yang sudah ia tetapkan sebelum pemilu.

infografik luigi di maio

Terkait prinsip demokrasi langsung melalui sistem online yang dipraktikan M5S pun mengundang kekhawatiran, terutama terkait besarnya potensi penyalahgunaan platform online itu oleh Davide Casaleggio.

Marco Canestrari, mantan pegawai pendiri partai, mendiang Gianroberto Casaleggio, mengatakan kepada Euronews bahwa siapapun yang mengelola portal online partai memiliki akses terhadap seluruh data yang berhubungan dengan M5S, terutama data suara pemilih.

“Orang [yang menguasai portal] sudah jelas adalah Davide Casaleggio dan para teknisinya atau siapa pun yang memiliki akses terhadap data ini. Artinya, secara teoritis dia bisa menggunakan kekuasaan politik dan negosiasi terhadap siapa pun yang ingin bergabung dengan aktivitas politik partai,” jelasnya kepada Euronews.

Selain itu The Local menyebut bahwa proses voting pun tidak sedemokratis yang digembar-gemborkan M5S. September tahun lalu, dalam pemilihan kandidat pemimpin partai dan calon perdana menteri, salah seorang rival Di Maio, Vicenzo Cicchetti, mengkritik proses pemilihan M5S yang ia sebut “dipaksakan kepada kami murni karena dia [Di Maio] muda dan camera face.”

Itu pula yang membuat banyak pengamat berpendapat alasan dibalik mundurnya Beppe Grillo pada september 2017 dan naiknya Di Maio sebagai pemimpin partai sekaligus kandidat perdana menteri, yaitu memberi wajah baru terhadap M5S. Menurut Politico itu tercermin dari kebijakan-kebijakan Di Maio.

“Di bawah kepemimpinan Di Maoi M5S mulai mengurangi wacana anti-euro … juga memberikan pesan positif terhadap pihak-pihak yang dulunya digambarkan M5S sebagai musuh: pemimpin bisnis, investor internasional, dan institusi akademik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *