Tips Kampanye untuk Pasangan Calon

TERLALU menyederhanakan persoalan bila pemilihan umum (pemilu) dipahami sebagai prosesi pemberian suara semata. Jika pemilu akan didudukan sebagai instrumen pembangunan sistem politik yang sehat (robust democracy) maka apa yang sering disebut sebagai pesta demokrasi tersebut harus menyediakan ruang bagi warga untuk mendesain pengalaman (designing experience) politik mereka.

Bagaimana ruang tersebut akan dicipta? Apakah menampilkan bakat seni dan kreativitas pasangan calon seperti yang diinisiasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat pada sesi terakhir debat perdana Pilgub Jabar 2018 termasuk ke dalamnya?

Banyak cara ditempuh pemilih dalam menyalurkan keputusannya. Mungkin ada yang menganggap tidak perlu berpikir, sehingga siapa yang kebetulan terlintas dalam benaknya dia pilih. Mungkin juga ada yang merasa bingung calon mana yang harus dipilih karena perbedaan di antara pasangan calon tidak begitu nampak. Untuk mengatasi kebingungannya, pemilih ada yang mendalami informasi tentang calon, mengkonfirmasi pernyataan yang dikeluarkan pasangan calon, bertanya ke pihak lain yang diakuinya kredibel, atau mungkin sekadar ngitung kancing.

Bagaimana cara pemilih bertindak dalam serangkaian tahapan pemilu bergantung kepada makna yang mereka berikan tentang pesta demokrasi tersebut. Jika hanya dipahami sebagai proses pemberian suara, pilihan aktivitasnya tidak banyak. Pemilih hanya bisa memilih cara mendapatkan informasi yang meyakinkan pilihan mereka.

Namun, bila pemilu didudukan sebagai instrumen pembangunan sistem politik demokratis yang sehat, keterlibatan warga dalam pemilu tidak sebatas memberikan suara. Pemilih bisa menjadi panitia, pemilih aktif yang menyebarkan gagasan menjadi pemilih cerdas, atau bentuk lain yang dapat mendongkrak gairah pemilih lain dengan merancang berbagai forum, pertunjukan, atau sekadar obrolan sesama calon pemilih.

Dengan begitu, tahapan pemilu yang panjang tidak berlalu tanpa kesan; atau memudar seiring berakhirnya tahapan pemilu tanpa catatan apapun. Inilah ruang penciptaan kesan (baca: mendesain kesan) dimaksud, yang tercipta karena pola keterlibatan mereka (mode of engagement).

Ke dalam penciptaan ruang dimaksud termasuk menyudahi prosesi pemilu yang intimidatif dan menggantinya dengan persuasif. Tanpa melupakan substansi kepentingan memilih pemimpin berkualitas, pemilu harus menghibur warga (entertaining citizens), sebuah bentuk hiburan yang tercipta karena adanya kebebasan mengeksplorasi gagasan dan menemukan alasan keterlibatan seseorang dalam politik.

Deja Vu

Namun ada ancaman menghadang ketika calon pemilih melekatkan emosinya kepada tahapan pemilu yang tengah dijalani. Bila calon pemilih merasakan kembali apa telah dirasakan sebelumnya (déjà vu), atau teringat kembali sesuatu yang pernah dilihat dalam tahapan pemilu pada pilkada sebelumnya, atau mendengar sesuatu yang pernah diucapkan dalam pemilu sebelumnya, namun semua itu tak terbukti. Maka calon pemilih akan menganggap apa pun yang ditampilkan pasangan calon hanya kepura-puraan yang berulang yang kemudian menjadi proyek lupa.

Bila perasaan ini yang muncul, apa pun yang dirancang KPU dan janji apa pun yang dilontarkan pasangan calon tidak akan meneguhkan keyakinan pemilih. Alih-alih tertarik dan terlibat, calon pemilih malah akan menarik diri, dan membiarkan apa pun yang dipertontonkan pasangan calon berada di luar ruang kognisinya.

Banyak pemilih memandang rangkaian pemilu sebagai sebuah kontinum, di mana pasangan calon ditempatkan dalam kategori sebagai politisi dengan karakter generik yang sama. Pandangan semacam ini selain dibentuk oleh pengalaman personal pemilih berhubungan dengan institusi politik, juga dikukuhkan oleh tindakan politisi ketika sudah terpilih.

Sayangnya, kesan politisi ingkar janji lebih kuat ketimbang politisi tak pernah ingkar janji. Kesan ini muncul karena apa yang dijanjikan kerap berbeda dengan apa yang dilakukan pasangan calon usai pelantikan. Janji perubahan kerap menjadi proyek lupa. Pejabat baru hanyut ke dalam zona nyaman, dan hanya melakukan tugas-tugas pemerintahan sebagai runitas semata. Tidak ada terobosan, minim inovasi.

Kemunculannya hanya dibalut pencitraan. Tak jarang, banyak pejabat sibuk melakukan ini dan itu, namun tidak berdampak bagi pebaikan kehidupan warga. Semua itu dia lakukan hanya untuk investasi bagi kontestasi lima tahun yang akan datang.

Tersalip masalah lain

Kesan di atas bertambah kuat jelang Pilkada Serentak 2018. Mengapa? Hiruk-pikuk pilkada tersalip gencarnya pemberitaan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap pasangan calon di beberapa daerah. Juga polemik yang dimunculkan pemerintah dan aparat penegak hukum tentang usulan penundaan penyidikan calon kepala daerah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Meski sesekali muncul, dua peristiwa yang disebut terakhir lebih kuat penetrasinya ke dalam memori publik ketimbang aktivitas blusukan yang dilakukan pasangan calon, atau tampilan “lucu-lucuan” yang disuguhkan pasangan kandidat. Alih-alih memunculkan sisi baik kandidat, tampilan lucu-lucuan malah mengukuhkan ketidakberbedaan antara calon pemilih dan pasangan calon, dan jika ada perbedaan di antara keduanya hanya faktor nasib baik (yang memungkinkan mereka terpilih jadi pasangan calon) semata.

Inilah tantangan yang dihadapi KPU dan pasangan calon, bagaimana menjadikan pilkada sebagai ajang bagi pemilih untuk mendesain pengalaman politik mereka, dan menyatukan pasangan calon dan pemilih pada harapan dan keyakinan yang sama. 

Kredo politisi juga manusia adalah realitas bahwa ada politisi baik, di samping ada yang buruk. Desain pengalaman dan intensitas keterlibatan calon pemilih dalam mengenali pasangan calon akan menolongnya menunjukkan mana politisi yang harus dia pilih.

Bila pasangan calon dirasa “jajar pasar” alias tidak ada yang unggul (nyongcolang), pilihlah yang paling sedikit kekurangannya. Bukan hal mustahil bukan?***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *