Si Janda Hitam dari Thailand

Black Widow bukan nama umum untuk sebuah ranpur. Thailand yang tidak diperkirakan sebelumnya, langsung menyeruak menjadi produsen ranpur di kawasan. Tidak tanggung-tanggung, Black Widow langsung lahir sebagai ranpur modern yang tak kalah dengan produk sejenis di ASEAN.

Pada awalnya tidak banyak yang menyangka. Maklum saja, Thailand itu perangai akuisisi alutsista persis seperti Indonesia. Semua produk alutsista darat seperti ranpur dan Main Battle Tank dibeli, dalam jumlah sedikit-sedikit, dari beragam produsen baik Barat maupun Timur. Soal kontinuitas dan kesederhanaan logistik sudah lama dibuang keluar jendela. Etalase alutsistanya tentu saja jadi gado-gado, walaupun secara kualitas dan kuantitas sebenarnya lebih baik dari Indonesia.

Black Widow Thailand. Sumber gambar: military-skyscrapercity
Black Widow Thailand. Sumber gambar: military-skyscrapercity

Nah, walaupun hobi mengoleksi ranpur, ternyata Thailand memiliki roadmap pengembangan alutsista mandiri. Adalah Defence Technology Institute yang punya proyek ranpur 8×8 yang diberi nama si janda hitam alias Black Widow, salah satu spesies laba-laba yang punya bisa mematikan.

Pemerintah Thailand pada 2013 menggariskan bahwa teknologi persenjataan darat harus dikuasai demi mengurangi impor dan mengantisipasi pemotongan anggaran. Oleh karena itu, mereka segera mencari mitra yang dalam hal ini disambut oleh perusahaan Israel, Israeli Military Industries. Dukungan lain juga diberikan perusahaan kondang Singapura, ST Kinetics yang menjadi advisor terkait rancang bangun Black Widow dan aspek lainnya berdasar pengalaman STK dalam membuat Terrex.

Pembangunan purwarupa berlangsung cepat. Hull sudah siap pada akhir 2014 dalam format bodi berbahan baja dengan lapisan keramik komposit untuk membuatnya tahan peluru. Sepanjang 2015 sejumlah tes statik dilakukan, dilanjutkan uji dinamis September 2015.

Tanggal 16 September dilakukan uji cross country sejauh 64 kilometer yang menguji sistem penggerak, radius putar, tanjakan, kemiringan dan sebagainya. Pada 17 September salah satu purwarupa diuji ketahanan hull dengan dipaksa melintasi ranjau.

Tes ranjau disesuaikan dengan standar AEP-55 V2 (STANAG 4569 Level 2a dan 2b), dimana ranjau seberat 6 kg diledakkan di bawah hull tanpa mengalami kerusakan di badan kendaraan. Pengujian terakhir adalah tes detail mengenai kinerja puncak dari Black Widow, termasuk pengereman, pengendalian, dan tes suspensi. Seluruhnya dapat dilalui tanpa suatu kendala.

Tampak bagian dalam Black Widow. Sumber gambar:  military-skyscrapercity
Tampak bagian dalam Black Widow. Sumber gambar: military-skyscrapercity

Akhirnya pada pameran D&S 2015, DTI memamerkan Black Widow secara utuh, lengkap dengan sistem senjatanya dalam balutan standar kavaleri AD Thailand yang sudah menggunakan digital disruptive pattern. DTI menyatakan bahwa Black Widow akan dijadikan dalam sejumlah varian mulai dari angkut pasukan, intai, dukungan tembakan, pembawa mortir, komando, dan kendaraan tempur.

Black Widow memiliki bobot total 24 ton termasuk kubah dan sistem perlindungan, yang mencapai STANAG 4569 Level 4 atau kebal terhadap hantaman peluru 14,5mm untuk semua sisi. Mesinnya menggunakan Caterpillar C7 berdaya 450hp dengan turbocharger, lagi-lagi sama dengan Terrex. Dengan mesin ini, Black Widow mampu meluncur sejauh 600 kilometer sebelum berhenti untuk mengisi bahan bakar.

Mengintip ke dalam, Black Widow boleh dibilang dibangun mirip Terrex. Konfigurasinya pun sama, dengan pengemudi di depan bersisian dengan mesin, dan dilengkapi layar LCD dan kamera. Pengemudi punya palka sendiri untuk keluar.

Di belakang ada delapan kursi yang menempel di dinding berhadap-hadapan, menggantung dan tidak menyentuh lantai. Tiap kursi dilengkapi pijakan sehingga kaki pasukan juga tidak menyentuh lantai, untuk mengurangi kemungkinan cedera akibat ledakan ranjau di bawah kendaraan. Selain itu ada satu kursi terpisah untuk mengoperasikan sistem senjata berupa kubah otomatis (RCWS) kaliber 30mm MC30.

Ini adalah kanon dan kubah standar yang digunakan pada konfigurasi Terrex 2 yang diproduksi bersama SAIC di Amerika Serikat dan tengah dikompetisikan bersama ranpur Sentinel 2 (Terrex 3) untuk program LAND 400 di Australia. Dengan modal kanon ini, Black Widow benar-benar memiliki ‘bisa’ yang mampu mematikan ranpur-ranpur yang potensial menjadi lawannya.

The post Si Janda Hitam dari Thailand appeared first on Majalah Angkasa Online.

Majalah Angkasa Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *