Tidak Ada Radiasi Nuklir pada Pecahan Roket Falcon 9

Sumber gambar: ytimg

Pecahan Roket Falcon 9 yang jatuh di wilayah Sumenep dipastikan bebas dari unsur radiasi nuklir. Untuk memastikannya, Tim Satuan Tanggap Darurat (STD) Badan pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) kemarin (29/9/2016), melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap semua objek tersebut.

Kepala Subdirektorat Kesiapsiagaan Nuklir, Direktorat Keteknikan dan Kesiapsiagaan Nuklir Bapeten, Mohammad Ridwan  memastikan, tidak ada paparan radiasi nuklir pada seluruh objek yang diamankan di Mapolres Sumenep, Jawa Timur, itu.

“Paparan radiasi dari semua obyek yang kami ukur sama dengan paparan radiasi alam. Dengan demikian seluruh objek itu kami nyatakan bebas dari bahaya radiasi nuklir,” ucapnya di hadapan Ketua Tim Lapan dan jajaran Polrest Sumenep.

Menurut Elly, Ketua Tim Lapan, pihaknya akan membawa seluruh objek tersebut diperiksa lebih lanjut di laboratorium milik Lapan. Kapolres Sumenep AKBP Josep Ananta Pinora pun berjanji akan melanjutkan pencarian objek yang tersisa serta berkoordinasi dengan Lapan dan Bapeten.

“Kami minta agar masyarakat proaktif untuk melaporkan kepada aparat kepolisian setempat jika mengetahui ada objek yang baru,” ujar Josep.

Bukan berita baru

Beberapa hari ini ramai diberitakan tentang benda-benda dari langit, yang jatuh dan ditemukan di Sumenep, Madura, Jawa Timur. Lapan sudah memeriksanya dan berdasarkan waktu jatuhnya berkesimpulan, objek tersebut adalah bagian dari roket Falcon 9 milik Space-X AS yang mengorbitkan JCSAT 16 pada 14 Agustus lalu.

Sebenarnya bukan berita baru kalau “sampah” di orbit bumi ini makin meningkat. Dari tulisan di Angkasa disebutkan, “sampah-sampah” itu berasal dari roket yang yang sudah tidak digunakan lagi, satelit yang rusak, juga mikrometeorid.

“Sampah-sampah” itu bisa jadi ancaman bagi bumi dan penghuninya karena bukan tidak mungkin akan jatuh ke bumi. Para ilmuwan pun berupaya untuk mengatisipasinya dengan mencari metode terbaik.

Kita ingat ketika NASA (National Aeronautics and Space Administration) memperkirakan satelitnya, UARS (Upper Atmosphere Research Satellite) yang sudah tak berfungsi “terjun” mengarah ke bumi dan dipastikan menembus atmosfer pada 23 September 2011.

Sebenarnya kejadian jatuhnya “rongsokan angkasa” itu bukanlah yang pertama. Namun memang jarang terjadi satelit sebesar bus dengan berat 6,5 ton jatuh ke bumi. Peringatan NASA itu sebagai penggugah kesadaran khalayak tentang apa yang akan terjadi waktu itu, walaupun kecil kemungkinan jatuhnya di area yang berpenduduk padat.

Jatuhnya “rongsokan angkasa” pernah terjadi pada 6 Februari 1991, yakni sebagian dari Salyut 7, stasiun ruang angkasa milik Rusia berbobot 43 ton yang sudah ditinggalkan. Meski menghadapi pertahanan atmosfer, sebagian rongsokan Salyut 7 ini jatuh ke Laut Atlantik.

Indonesia ternyata juga pernah kebagian “rongsokan angkasa” itu dan Lapan menyimpannya. Setidaknya ada dua pecahan bekas tabung bahan bakar roket Rusia yang jatuh di Gorontalo pada tahun 1981 dan di Lampung pada tahun 1988. Sementara satu lagi berupa pecahan roket China yang jatuh di Bengkulu pada tahun 2003.

The post Tidak Ada Radiasi Nuklir pada Pecahan Roket Falcon 9 appeared first on Majalah Angkasa Online.

Majalah Angkasa Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *