One on One detikSport dengan Rionny Mainaky Pelatih Tunggal Putri Pelatnas PBSI

Sumber

Jakarta – Rionny Mainaky pulang kampung. Setelah bertahun-tahun menangani tim nasional bulutangkis Jepang, dia dipercaya sebagai head coach tunggal putri Pelatnas PBSI.

Rionny bekerja sebagai pelatih Gregoria Mariska Tunjung dkk mulai 1 April. Cuma melatih dua hari di Cipayung, lokasi pelatnas PBSI, dia langsung bertugas mendampingi pebulutangkis tunggal putri ke dua turnamen BWF di Asia Tenggara, Malaysia Terbuka dan Singapura Terbuka.

Anak ketiga dari tujuh bersaudara Mainaky itu memang sempat melatih Greoria dipelatnas Cipayung pada 28 dan 29 Maret, tapi dia datang tanpa bilang-bilang. Setelah itu, Rionny turut terbang ke Kuala lumpur untuk mengintip langsung penampilan Gregoria dkk di Kuala Lumpur dan Singapura.

Turnamen Malaysia Terbuka, mulai 3-7 April 2019, merupakan debutan Rionny mendampingi pebulutangkis tunggal putri Indonesia. Tapi, Rionny tak memiliki banyak kesempatan untuk melihat langsung kemampuan Gregoria dan Fitriani. Sebab, mereka tak melaju jauh, langsung kandas di babak pertama.

Rionny juga tak bisa berlama-lama mendampingi Gregoria dkk di turnamen bulutangkis Singapura Terbuka mulai 9-14 April. Kali ini, Rionny yang tak bisa berlama-lama. Dia harus kembali ke Jakarta karena putri bungsunya terkena demam berdarah.

Rionny melanjutkan ‘ngantor’ di Cipayung Senin (15/4/2019). Dia sekaligus memberikan kesempatan kepada bertatap muka dalam One on One detikSport.

Sejak pukul 06.30 WIB, Rionny, yang didampingi asistennya, Minarti, hingga empat jam kemudian menyuguhkan latihan dengan berbagai variasi kepada Gregoria dkk. Dalam durasi itu pula, tujuh program mereka lahap dalam satu sesi latihan pagi. Sebab, sore harinya, mereka akan menjalani latihan kembali.

Beratnya program yang diberikan Rionny memang sedikit membuat para pemainnya kewalahan. Bahkan ketika mereka tampak sedikit bersantai dan ngobrol, seketika itu pula, Rionny langsung memotong cepat untuk meminta atletnya bergegas latihan kembali.

“Sebenarnya, bukan di sini (pelatnas PBSI), saja saya seperti ini. Waktu di Jepang, saya juga begitu. Saya harus cepat motong. Mereka ngobrol, santai sedikit, harus cepat karena waktu kita kan sedikit saja,” kata Rionny saat berbincang-bincang dengan detikSport tentang gaya kepelatihannya yang berbeda dengan pelatih sebelumnya

“Yang saya sampaikan kepada mereka adalah kamu datang, senam sedikit, harus pakai berapa menit, latihan berapa menit. Karena, disiplin di latihan akan dipakai juga saat di lapangan, jadi mereka berpikir setiap detik itu penting, setiap bola itu sangat penting. Jadi saat di lapangan mereka harus siap, tak buang-buang waktu,” dia menjelaskan.

Menangani tunggal putri Indonesia bakal menjadi tantangan tersendiri bagi Rionny. Dia datang saat tunggal putri terpuruk. So, publik menyimpan harapan tinggi kepadanya. Apalagi, Rionny sebenarnya sudah diminta pulang sejak kepengurusn PBSI kabinet Gita Wirjawan.

Selain itu, bagi Rionny, dia sudah meninggalkan tugas besar pelatnas bulutangkis Jepang yang sedang membangun tim raksasa menuju Olimpiade 2020. Mereka memiliki energi dan motivasi ekstra menyambut pesta olahraga itu dengan status tuan rumah.

Bersama timnas bulutangkis Jepang, Rionny terbukti menciptakan ganda putri dan ganda putra Jepang yang mampu bersaing di 10 besar dunia. Dia memang bukan headcoach, namun bekerja di bawah Park Jo Bong, seorang Korea Selatan yang telah menjalani kontrak jangka panjang dengan bulutangkis Jepang. Kerja sama mereka menghasilkan raihan sip: juara Piala Uber 2018.

Bagaimana Rionny mengusung tugas itu? Apakah dia sudah mulai beradaptasi? Bagaimana Rionny waktu kecil, kenapa mau menjadi pelatih? Simak One on One Rionny dengan detikSport sepekan ini.

(mcy/fem)