Rionny Mainaky Tahu Ditunggu Tugas Berat di Tunggal Putri, Kok Mau?

Sumber

Jakarta – Rionny Mainaky menyadari memikul beban berat dengan menerima pinangan PP PBSI sebagai pelatih tunggal putri pelatnas Cipayung. Dia memiliki alasan saat menerima keputusan tersebut.

Di bulutangkis Indonesia, tunggal putri menjadi sektor yang paling lemah di antara nomor lain. Sudah bertahun-tahun juga, tunggal putri tak pernah juara di level super series.

PBSI juga amat selektif untuk menentukan pelatih. Bahkan, PBSI membiarkan kursi head coach di sektor itu kosong dan menugaskan asisten pelatih, Minarti Timur, untuk menangani Fitriani cs.

Kini, head coach itu tiba. Dia Rionny. Adik kandung dari Richard Mainaky itu juga sudah memulai programnya sejak 28 Maret lalu kendati dalam kontraknya kepelatihannya dimulai 1 April.

Rionny menyadari betul tugasnya kali ini amat berat. Apalagi, dia harus dihadapkan dengan Olimpiade 2020 Tokyo. Selain harus mendongkrak peringkat Fitriani dkk, Rionny harus menjawab ekspektasi publik yang sering kali tak terbatas.

“Sadar, sadar (berat), tapi waktu saya ke Jepang juga begitu. Waktu berangkat ke Jepang, saya tak tahu situasi apapun, kayak gimana di sana, saya tak tahu. Saya cuma tanya “ada tempat tidur, makan,” kemudian berangkat sudah. Gaji saya tidak tahu. Saya orangnya begitu,” kata Rionny dalam One on One detikSport.

“Dengan PBSI juga begitu? Enggak ada (pertimbangan). Sama dengan mereka. Kalau ada pertimbangan tawar-menawar saya tentu tak mau lah. Di sana (Jepang) pasti lebih bagus. Ya, (semua) dari bawah lagi lah,” ujarnya.

Kendati tak menuntut banyak kepada PBSI, Rionny bakal bekerja keras dan menjalankan tugas dengan serius. Dengan dua modal itu, dia yakin tunggal putri Indonesia bisa bersaing di papan atas dunia.

“Kita latihan yang bagus, program yang bagus, pasti ada hasilnya. Jadi, kalau kita sudah maksimal, lalu kita gagal ya sudah. Itu yang saya pegang, kita tak usah takut,” dia menjelaskan.

“Ya, saya cuma ingin impian mengulangi kejayaan tunggal putri dulu, seperti Susy Susanti, Ivana Lie, punya mental bagus. Jadi, kalau anak-anak sekarang bisa bangkit, bisa bagus, maka generasi lebih percaya diri. Kalau ada yang juara pasti beda tuh, ada yang bisa menarik yang di bawah-bawah. Kayak Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marvus Fernaldi Gideon itu narik yang di bawahnya bisa, karena ‘oh di depan mata mereka kan tembus juara. Jadi yang muda-muda yakin,” ujar dia.

“Jadi kalau bisa tunggal putri begitu. Mungkin susah untuk seperti Susy. Kita kan dulu latihan sendiri, mikir sendiri. Nah, saya ingin tunggal putri juga begitu, harus mikir sendiri, bukan saya saja hahaha,” dia mengimbau.

(mcy/fem)