Gebrakan Para Wanita Lepas dari Diskriminasi

PADA 2009, Indira Gandhi, seorang guru TK dari Malaysia, sempat kehilangan hak asuh atas ketiga anaknya. Pada Maret 2009, suaminya yang sudah tidak lagi tinggal bersamanya mengubah agama anak-anaknya sesuai agama suaminya tanpa sepengetahuan atau persetujuan Indira.

Pada Januari 2018, setelah dirinya melakukan perlawanan hukum yang panjang dan berlarut-larut, Mahkamah Tinggi akhirnya menyatakan bahwa pengubahan agama anak-anak di Malaysia secara sepihak tidak sah di mata hukum. Sayangnya, Indira tetap tidak bisa tenang.

Indira belum mendapatkan kembali hak asuh atas anak bungsunya, Prasana Diska, karena mantan suaminya ikut membawanya lari bersamanya. Saat ini, mantan suaminya itu tengah dikejar pihak kepolisian.

Ini bukan cerita tentang agama. Dan juga bukan tentang apakah pengadilan agama atau pengadilan negara dapat mengatur kehidupan pribadi sesorang. Ini adalah kisah tentang seorang wanita yang berjuang selama 9 tahun untuk keluarganya.

Kisah Indira ini mencerminkan tentang kegigihan dan determinasi para wanita di Asia Tenggara. Mereka berhasil terlepas dari diskriminasi yang hampir tidak dapat teratasi dalam segala hal, seperti wanita yang harus bekerja dua kali lebih keras untuk dapat mencapai tujuan mereka.

Namun, di belahan lain di kawasan ini, sejumlah perempuan telah berhasil menemukan jalan mereka yang baru, termasuk dalam dunia politik.

Contohnya adalah wali kota wanita pertama di Surabaya, Tri Rismaharini, atau biasa dipanggil “Ibu Risma”. Dia dikenal sebagai salah satu politisi yang paling giat di Indonesia. Risma bahkan termasuk dalam Top 50 Leaders versi Majalah Fortune 2015.

Wali kota Surabaya, Tri RismahariniKOMPAS.com/Achmad Faizal Wali kota Surabaya, Tri Rismaharini

Sejak menjabat pada 2010, dia telah berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi Surabaya menjadi 7,5 persen dan mengalokasikan 35 persen anggaran daerah untuk pendidikan.

Pada hari kedua sebagai wali kota, Risma sempat menolak untuk meninggalkan kantor Wakil Presiden sampai dirinya mendapatkan jawaban atas proyek pengembangan pelabuhan yang telah terbengkalai selama bertahun-tahun.

Risma juga sukses menghadapi para pemimpin geng dan mucikari dalam perjuangannya untuk menutup “Gang Dolly” yang terkenal di Surabaya—salah satu kawasan pelacuran terbesar di Indonesia

Para wanita di bagian Asia Tenggara lainnya juga telah meraih sukses dengan caranya sendiri.
Di Yangon, Myanmar, Wai Thit Lwin yang berusia 29 tahun, pemilik Bella Cosmetics, bersama Direktur Kreatif Anna Sway-Tin telah berhasil memproduksi produk-produk rumahan untuk kaum perempuan Myanmar dengan harga sekitar 2-4 dollar AS.

Sebelum adanya Bella Cosmetics, masyarakat menengah di Myanmar hanya dapat menggunakan barang merek impor yang mahal atau barang palsu yang berkualitas rendah.

Bella, sebuah produk yang berusaha menggabungkan gaya lama dan baru, seperti Thanaka (bedak tradisional Myanmar) yang dikreasi ulang dengan teknologi perawatan kulit terbaru dari Korea.

Saat ini, Bella Cosmetics sudah menjadi merek kosmetik terbesar di Myanmar, dengan pangsa pasar sebesar 65 persen di industri kecantikan dan perawatan Myanmar yang mencapai 318 juta dollar AS atau Rp 4,356 triliun.

Kita juga memiliki wanita-wanita seperti Neelofa dan Dian Pelangi yang telah merevolusi industri busana Muslim di kawasan ini. Dian Pelangi, seorang “Hijaber” muda dan penuh gaya berusia dua puluh tujuh tahun dan memiliki 4,8 juta pengikut di Instagram.

Begitu juga, Neelofa dari Malaysia, pengusaha wanita yang berbeda dari yang lain sehingga membuat namanya dikenal oleh kalangan muslimah yang tertarik dengan mode.

Pada 2014, aktris dan pengusaha berusia dua puluh sembilan tahun ini meluncurkan merek jilbab “Naelofar Hijab” yang modis dengan harga yang terjangkau dan tersedia untuk semua umur.

Dua tahun kemudian, “Naelofar Hijab” telah berhasil meraup penjualan sebesar MYR 50 juta atau Rp 1,1 triliun, dan 10 persennya berasal dari pembelian di luar negeri. Neelofa pernah masuk dalam daftar “The Forbes 30 under 30 Asia” pada 2017 dan memiliki lebih dari 5 juta pengikut Instagram.

Tentu saja tidak semuanya berjalan lancar. Produk terakhirnya, BeLofa, sempat terkena kontroversi karena diluncurkan di sebuah klub malam, hingga akhirnya dia meminta maaf atas kejadian tersebut.

Tapi peristiwa itu tidak memengaruhi penjualannya. Produknya menjadi viral dan syal keluarannya pun terjual habis dalam waktu 24 jam.

Para wanita muda seperti Neelofa, Dian, Wai, dan Anna telah berhasil memanfaatkan platform media sosial untuk membawa budaya lokal menuju panggung dunia modern. Keberanian dan cara berpikir ke depan yang mereka miliki telah menunjukkan sisi kreativitas dan ketangguhan Asia Tenggara.

Mereka juga telah mewakilkan adanya masa depan yang cerah untuk para wanita.
Namun, masih banyak lagi yang bisa dilakukan.

Meski telah terjadi peningkatan akses terhadap pendidikan, nyatanya tetap saja masih terasa sulit bagi para remaja perempuan di kawasan ini untuk membuka jalan mereka sendiri ke depannya.

Faktanya, di kawasan regional kita ini rata-rata hanya 30 perempuan dari setiap 100 laki-laki yang memegang posisi pemimpin. Berdasarkan data dari PBB, para wanita secara global digaji rata-rata 24 persen lebih rendah dari laki-laki dan sengaja diposisikan untuk peran yang lebih rendah.

Masyarakatnya sendiri yang telah “menahan” kaum perempuannya karena dirasa akan merugikan mereka sendiri. Sebuah laporan McKinsey menyebutkan bahwa ekonomi ASEAN dapat bertambah 400 miliar dollar AS (sekitar Rp 5.479 triliun) atau 9 persen dari PDB mereka jika semua negara dapat menyatukan cara kinerja yang baik atas kemajuan masing-masing negara di kawasan ini.

Ada beberapa contoh yang bisa memacu kita. Presiden Joko Widodo misalnya, memiliki delapan menteri perempuan di kabinetnya (Perancis memiliki 11 Menteri).

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat menghadiri Beautyfest Asia 2018 di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (16/3/2018).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat menghadiri Beautyfest Asia 2018 di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (16/3/2018).

Ini termasuk Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang dihormati dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang bahkan terpilih sebagai Menteri Keuangan terbaik di dunia dalam acara World Government Summit.

Tetapi beberapa menteri tidak membuat kesetaraan gender. Negara-negara progresif seperti Singapura justru kurang memiliki representasi perempuan dalam politiknya. Hanya 23 persen anggota parlemennya yang perempuan. Jumlah yang lebih kecil lagi terjadi di Malaysia (10,8 persen) dan Indonesia (17,1 persen).

Sepatutnya ada sebuah gebrakan untuk mendobrak situasi tersebut. Di Malaysia, pemerintah telah menetapkan sebuah tujuan untuk memiliki setidaknya 30 persen perempuan dalam jajaran dewan di perusahaan publik pada 2020.

Seiring inisiatif top-down yang berjalan dengan baik dan lancar, ini pun masih harus disertai adanya perubahan pemikiran tentang bagaimana kita memandang wanita.

Wanita bukan hanya untuk mengurus pekerjaan dapur dan mengasuh anak yang sesungguhnya itu adalah tanggung jawab bersama para orang tua.

Kaum perempuan perlu memainkan peran lebih besar di masa depan kawasan ini dan tidak hanya di area ekonomi. Mereka harus yang terdepan untuk meraih kemajuan di segala bidang.
Ini sesuatu yang kita semua bisa lakukan dan harus diperjuangkan.