Harga BBM Premium Seharusnya Rp8.600/Liter Dinilai Kemahalan

Sumber

JAKARTA – Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana mengevaluasi formula pembentuk harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Penugasan jenis Premium dan Solar. Peninjauan tersebut dilakukan supaya bisa mengurangi beban keuangan Pertamina di tengah keputusan pemerintah untuk tidak mengubah harga BBM sampai akhir tahun.

Pasalnya, Harga Premium saat ini Rp6.450 per liter, semestinya dijual dengan harga Rp8.600 dan Solar yang dijual Rp5.150 per liter mestinya dijual sekira Rp8.350 per liter.

BERITA TERKAIT +

Direktur Pemasaran Pertamina Iskandar mengatakan, dengan harga minyak mentah sekarang dan harus menjual BBM Penugasan harga tetap maka apapun efisiensinya akan sulit mengurangi beban keuangan Pertamina. Sekalipun tambahan subsidi untuk Solar ditambah menjadi Rp1.000, sifatnya hanya sedikit mengungai beban keuangan perseroan.

Menurut Direktur Pemasaran Pertamina Iskandar, selisih harga jual Premium dan Solar ini membuat potensi loss revenue bagi Pertamina. Pasalnya, harga BBM yang mestinya disesuaikan setiap tiga bulan, dipatok lurus hingga pertengahan 2018.

PT Pertamina (Persero) mencatat loss revenue dari hasil jual Premium dan Solar sampai Februari 2018 sebesar Rp3,9 triliun. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya penyesuaian harga BBM sampai 2019.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar mengatakan, perseroan telah mencatat potensi tambahan biaya jual BBM jenis Premium dan Solar sampai Februari 2018.

“Secara formula potensial loss Januari-Februari penugasan Premium dan Solar tidak termasuk JBU (Jenis BBM Umum) di Jawa nilainya Rp3,49 triliun. Ini dua bulan saja, kalau ditambah jual Premium di Jamali mencapai Rp3,9 triliun,” tuturnya, di ruang rapat Komisi VII, Jakarta, Senin (19/3/2018).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dari patokan yang ditetapkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp500 menjadi Rp1.000 per liter. Namun, dengan volume yang bisa dikonsumsi sebanyak 16,32 juta kilo liter (kl).

Sri Mulyani juga menegaskan, dengan penambahan subsidi ini maka akan ada juga penambahan subsidi di APBN 2018. Penambahan diperkirakan sekitar Rp4 triliun sampai Rp5 triliun.

Menurutnya, hal ini dilakukan agar PT Pertamina (Persero) bisa terus menjalankan tugasnya memberikan BBM bersubsidi kepada masyarakat hingga 2019. Pada penghitungan sebelumnya, Sri Mulyani menyatakan akan ada penambahan anggaran subsidi di APBN 2018 sebesar Rp4,1 triliun.

Dengan tidak adanya kenaikan pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam jenis Premium yang seharusnya setiap tiga bulan sekali ada perubahan harga mendapatkan respon dari masyarakat, berikut kata mereka:

1. Bambang Hartomo (33) Karyawan Swasta

Menurut saya, bagusan harga yang sekarang sih nggak begitu mahal, tapi kalau mau naik jadi Rp8.600 juga tidak apa-apa. Kalau dipikirkan Pertamina juga rugi ya karena seharusnya harganya naik, tapi pemerintah tetap minta agar tidak naik sampai pertengahan tahun, ya untuk sekarang patuhi aja kebijakan pemerintah kayak gimana. Semoga aja, Pertamina nggak menolak untuk terus menyediakan BBM itu.

2. Heru Wijayanto (20) Mahasiswa

 

Saya kan mahasiswa, jadi harga BBM sangat berpengaruh bagi saya yang selalu bawa motor ke kampus. Sebagai pengguna Pertalite, harga premium yang sekarang Rp6.000-an cukup buat kantong mahasiswa, pas lah harganya. Kalau pun mau naik, ya usahakan jangan harga Rp8.600 itu terlalu mahal menurut saya.

Ada baiknya, pemerintah dan Pertamina bisa mengatur harga BBM yang sama-sama tidak merugikan bagi semua pihak, terutama tetap buat kantong mahasiswa aman.

3. Rani Rahmawati (26) Wiraswasta

Kalo misalkan jadi Rp8.600 itu cukup mahal bagi saya yang masih menggunakan Premium sampai saat ini. Ya, nggak masalah sih kalau misalkan jadi harga segitu. Tapi kasihan yang masih menggunakan premium harganya mahal. Menurut saya, yang masih menggunakan Premium itu karena harganya murah, makanya gakmau beralih ke harga mahal kayak Pertamax.

4. Gilang Ramadhani (30) Karyawan Swasta

Saya baca sih beritanya, mahal juga ya jadi Rp8.600, beda Rp2.000 sama harga yang sekarang. Kalau bagi saya sih gapapa harga segitu, tapi kan kalo bagi masyarakat yang masih pakai Premium tentu pilih karena harganya yang murah, kalau harga segitu sudah pasti masyarakat pindah haluan, cari yang murah kayak Pertalite misalkan. Harganya saingi Pertamax ya. Kalau bisa sih pertahanin harga yang sekarang, kalau pun mau naik ya ngga perlu sampai harga segitu, kemahalan.

5. Pramudya Romansa (21) Mahasiswa

Saya baru tahu kalo ada rencana naik harga Rp8.600. cukup mahal ya, saingi harga Pertamax, sekarang juga kan kalo Premium udah susah juga carinya, kalo bisa harganya jangan naik. Sebisa pemerintah buat harga BBM tidak naik, pertahanin harganya aja. Rakyat senang kalau BBM tidak naik, soalnya kemana-mana sekarang pasti naik kendaraan kan kayak motor yang banyak penggunanya.

(rzy)