Peran Wanita pada Era Modern Masih Norak

Mayoritas wanita masih mendedikasikan hidupnya hanya untuk suami dan anak. Belum bisa berperan ganda.

JAKARTA – Pada awal 2018, sejumlah video berisi curhatan wanita menjadi viral di media sosial bahkan hingga menjadi lelucon di grup-grup WhatsApp. Bagaimana tidak, curhatan mereka menyoal aktivitas rumah tangga. Ada yang mengeluhkan kelakuan suami yang lebih mementingkan handphone dibanding istrinya hingga ada yang memohon kepada suami untuk diajak refreshing. Semua diungkapkan dengan logat jenaka.

Contoh, video berdurasi 53 detik ini, “Kita udah rapih, udah menor. Alis dilempeng-lempengin, bibir di merah-merahin. Ajak kemana ni kita yang Bang. Ya Allah, begini amat ya saban hari. Tiap hari megangin penggorengan, megangin panci, belum ngurusan anak. Ya Allah Bang, ajak kita ini ya udah cakep ke mal. Gak usah ke mal dah bang, ke Alfa aja kita udah girang banget ini, Et dah Bang, gimana sih ya, kuplek banget di rumah, ya Allah.”

Menurut Meity Magdalena Ussu, anggota DPRD DKI Jakarta Komisi E, video itu menjadi cerminan bahwa perjuangan Raden Ajeng Kartini belum merata.  Masih banyak wanita yang belum bisa berkarya dan selalu menggantungkan hidupnya kepada suami. “Pesan yang tersampaikan, mereka tuh setiap hari di rumah, kerjaannya di dapur saja. Nungguin suami pulang.”

Memang tidak dapat dipungkiri, peran wanita di Indonesia belum terlalu terlihat. Mayoritas wanita masih memposisikan diri sebagai obyek, bukan subyek. Wajar saja, bila kerap menjadi lelucon. Tengok keyword google ‘The Power of Emak-Emak’. Isinya terlalu mendeskreditkan wanita. Dari wanita yang menggigit polisi, wanita yang berboncengan sepeda motor bertiga, hingga wanita memaki-maki polisi.

Begitupun di media sosial. Berdasar data, 76 persen pengguna aktif media sosial (Medsos) adalah kaum hawa. Namun, mayoritas lebih senang menggunakan Medsos sebagai ajang unjuk diri bukan sebagai eksistensi seorang pemikir Kartini pada era modern.

“Isi postingan rata-rata foto selfie, foto makanan, atau foto lokasi sedang berwisata. Sedikit sekali postingan-postingan berbobot. Dalam arti, yang berguna mengajak orang untuk melangkah ke positif. Kenapa? Karena like-nya kurang, jarang direspon,” ungkapnya.

Di kota-kota besar seperti Jakarta saja masih banyak para ibu yang lebih memilih bersantai di rumah daripada berkarya. Padahal, pemerintah sudah berupaya membantu dengan memberikan pelatihan-pelatihan khusus, seperti seperti menjahit, salon, dan sebagainya. Namun, peminatnya sangat minim.

Faktor penyebabnya bukan menyoal jenjang pendidikan, tetapi pola pikir. Contoh di Kelapa Gading yang notabene mayoritas warganya berpendidikan tinggi. Masih ada saja para ibu yang rela menghabiskan waktu memanjakan tubuh di gym atau salon kecantikan menunggu anak atau suaminya pulang. “Jadi, pola pikir mereka masih menganggap aktivitas yang dilakukan hanya untuk mendedikasikan hidup untuk suami dan anak,” tuturnya.

Zaman sudah semakin modern. Bila tidak bisa mengikuti zaman, kata Meity, wanita akan tersingkir dan tetap hanya sebagai pelengkap kehidupan.

Peluangnya sudah terbuka lebar saat ini. Mau berbisnis bisa atau menjadi anggota parlemen, menteri bahkan presiden juga bisa. Tidak ada aturan yang melarang. Sayangnya, berkaca dari realitas, hanya segelintir wanita yang memiliki minat.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, jumlah perempuan usia sangat produktif (15-49) mencapai 69,4 juta, lebih sedikit dibanding laki-laki yang mencapai 70,4 juta jiwa. Sedangkan untuk usia produktif (50-64), perempuan lebih banyak dengan 16,91 juta, sedangkan laki-laki hanya 16,9 juta jiwa.

Namun, yang bisa berkancah di jenjang Nasional baru sedikit. Paling hanya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Puan Maharani, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang bersinar dan menjadi tokoh nasional saat ini.

Meity mengimbau, ayo para wanita, berkacalah dari kemandirian kedua wanita tersebut. Termasuk Peggy Hartanto, Helga Angelina Tjahjadi, dan Carline Darjanto. Ketiga wanita ini sudah mendulang kesuksesan di bawah usia 30 tahun. Karya-karya mereka sudah diakui dunia.

“Kalau kita sendiri tidak bisa berkarya, maka selamanya perjuangan Kartini akan siasia. Kita butuh sekali wanita-wanita yang mau bergerak memajukan bangsa. Jangan takut mengembangkan diri,” ucap warga Kelapa Gading ini.

Dari 69,4 juta wanita berusia sangat produktif dan 16,91 juta usia produktif hanya segelintir yang mampu berkarya di skala nasional maupun internasional.

Menteri:

  • Puan Maharani
  • Susi Pudjiastuti
  • Sri Mulyani
  • Rini Soemarno
  • Nila F Moeloek
  • Khofifah Indar Parawansa
  • Retno LP Marsudi
  • Yohana Yambise

Pengusaha Muda Sukses:

  • Arini Sarraswati Subianto
  • Peggy Hartanto di kategori Arts bidang fashion
  • Helga Angelina Tjahjadi di kategori Arts bidang kuliner
  • Carline Darjanto di kategori Retail & Ecommerce
  • Merrie Elizabethi di kategori Retail & Ecommerce
  • Heni Sri Sundani Jaladara di kategori social entrepreneurs
  • Mesty Ariotedjo di kategori healthcare & science
  • Leonika Sari Njoto Boedioetomo di kategori healthcare & science