Sri Mulyani Ajak Masyarakat Investasi di SBN

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengajak masyarakat untuk mulai berinvestasi pada instrumen Surat Berharga Negara ( SBN).

Hal itu dilakukan untuk menjawab kekhawatiran berbagai pihak tentang kepemilikan asing yang mendominasi total SBN sehingga dapat menimbulkan capital outflow dan mengancam stabilitas perekonomian.

“Kami masih perlu mengembangkan terus pendalaman pasar dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembelian obligasi negara maupun korporasi,” kata Sri Mulyani melalui keterangan tertulis kepada Kompas.com, Jumat (23/3/2018).

(Baca juga: Kepemilikan Asing di SBN Diprediksi Terus Meningkat)

Sebelumnya, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut dominasi kepemilikan asing pada SBN telah berlangsung sejak 2014 hingga Juni 2017. Total kepemilikan asing tersebut tercatat mencapai 39,5 persen dari total SBN.

Menanggapi hal itu, Sri Mulyani memaparkan bahwa secara umum jumlah investor ritel yang membeli SBN memang meningkat setiap tahun, terutama sejak diterbitkannya SBN ritel tahun 2006.

Peningkatan tersebut mencatatkan 16.561 jumlah investor ritel dalam negeri untuk tahun 2016 menjadi 83.662 pada 2016.

(Baca juga: Utang Jatuh Tempo “Menggunung”, Investor Asing Masih Tertarik Beli SBN)

Pada 2018, pertumbuhan jumlah investor ritel pemegang SBN semakin tinggi, dari data terakhir tercatat sebanyak 501.713. Porsi pemegang SBN individual ada yang berusia di bawah 25 tahun baru sekitar 3 persen.

“Ibu rumah tangga juga telah mengenal dan berinvestasi pada SBN, sekitar 13 sampai 16 persen,” tutur Sri Mulyani.

Selain mengimbau partisipasi dalam investasi SBN, pemerintah juga berupaya melakukan diversifikasi instrumen utang. Hal tersebut dilakukan agar partisipasi masyarakat dalam pasar keuangan semakin dalam dan tebal, sehingga stabilitas ekonomi bisa terjaga.