Sri yakin ekonomi tumbuh lebih baik tahun ini

Sri yakin ekonomi tumbuh lebih baik tahun ini

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini potensi pertumbuhan ekonomi bisa melebihi angka lima persen seperti pencapaian saat ini melalui sejumlah pembenahan.

“Potensi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi selalu ada,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (27/2018).

Sri Mulyani mengatakan pembenahan yang dilakukan mencakup perbaikan dalam tiga komponen utama yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yaitu konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor.

Untuk peningkatan kinerja konsumsi rumah tangga, kata Sri Mulyani, hal yang bisa dilakukan adalah menjaga laju inflasi serta menciptakan kesempatan kerja agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Untuk masyarakat miskin, pemerintah juga memberikan jaminan sosial yang memadai dari sisi jumlah maupun cakupan agar bisa betul-betul melindungi masyarakat miskin,” jelasnya.

Untuk peningkatan kerja investasi, tambah dia, pemerintah tidak hanya memperbaiki proses izin kemudahan berusaha, namun juga membenahi skema insentif perpajakan untuk menarik minat investor swasta.

“Kita lihat kesehatan sektor swasta dan berupaya menciptakan kesempatan, yaitu dengan menyelesaikan masalah perizinan, termasuk tax insentif. Ini dilakukan agar swasta bisa menjadi penggerak ekonomi,” kata Sri Mulyani.

Sementara itu, untuk menggerakan sektor ekspor, hal penting yang dilakukan sebagai antisipasi terjadinya proteksionisme perdagangan adalah dengan melakukan diversifikasi baik dari negara tujuan maupun produk komoditas serta manufaktur.

Proyeksi ini lebih realistis untuk tercapai karena saat ini banyak risiko yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti melambatnya perdagangan global, volatilitas kurs dan menurunnya kinerja konsumsi rumah tangga.

Prediksi Bank Dunia

Bank Dunia, dalam laporan ekonomi triwulan terbarunya, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 2018-2020 berada pada kisaran 5,3 persen atau lebih tinggi dari pencapaian 2017 sebesar 5,1 persen.

“Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,3 persen pada periode 2018-2020,” kata Direktur Wilayah Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves dalam pemaparan laporan ekonomi triwulanan terbaru di Jakarta, kemarin.

Rodrigo mengatakan proyeksi itu adalah perkiraan terdekat yang bisa dicapai Indonesia dalam kondisi perekonomian global yang saat ini sedang mengalami pemulihan.

“Pertumbuhan di atas lima persen ini sudah termasuk tiga besar di antara negara-negara G20, tapi masih ada kesempatan untuk improve, karena pertumbuhan ekonomi potensial Indonesia bisa mencapai 5,6 persen,” kata Rodrigo.

Menurut dia, proyeksi ini lebih realistis tercapai karena saat ini banyak risiko yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti melambatnya perdagangan global, volatilitas kurs dan menurunnya konsumsi rumah tangga.

Namun, sangat penting bagi Indonesia untuk terus memperbaiki kinerja perekonomian untuk tumbuh lebih optimal, salah satunya dengan mendorong kinerja investasi melalui konsistensi perbaikan kemudahan berusaha seperti sudah dilakukan pemerintah.

“Indonesia harus memberikan pesan yang jelas bahwa modal masuk seperti FDI tidak hanya diundang namun juga disambut dengan baik,” kata Rodrigo.

Selain itu, kualitas kebijakan fiskal harus ditingkatkan untuk mempercepat pembangunan dan mendorong kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan penerimaan pajak serta penyerapan belanja yang lebih efisien untuk infrastruktur dan sumber daya manusia.

Bank Dunia menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat dan positif hingga periode 2020, meski dihadapkan sejumlah risiko eksternal dan domestik yang dapat muncul mengganggu proyeksi ini.

Bank Dunia menyatakan inflasi yang rendah didukung oleh peningkatan pengeluaran menjelang Pemilu dan membaiknya harga komoditas bisa menjadi pemicu pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam periode ini.

Defisit anggaran diperkirakan tetap terjaga dalam kisaran 2,3 persen terhadap PDB pada 2018, atau sedikit lebih baik dari periode 2017 sebesar 2,4 persen terhadap PDB, yang didukung oleh membaiknya penerimaan karena meningkatnya harga komoditas dan berjalannya reformasi perpajakan.

Defisit neraca transaksi berjalan diperkirakan melebar pada kisaran 1,9 persen terhadap PDB pada 2018, lebih tinggi dari 2017 sebesar 1,7 persen, seiring dengan penguatan permintaan dalam negeri dan pelemahan nilai tukar perdagangan.

Proyeksi ini menghadapi risiko kemungkinan meningkatnya proteksionisme global yang bisa membebani pertumbuhan ekonomi dan harga komoditas serta arus modal keluar sebagai dampak kebijakan normalisasi moneter Federal Reserve.